Bagaimana Perang terhadap Iran akan Mempengaruhi Ekonomi AS?
Dampaknya bergantung pada seberapa cepat kapal tanker minyak dapat kembali melintas di Selat Hormuz, kata para ahli.
Kenaikan harga akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menambah tekanan ekonomi yang dihadapi konsumen AS, meskipun Presiden Donald Trump berusaha menggambarkan perang tersebut sebagai sebuah keberhasilan.
Pada Rabu lalu, Trump menyatakan: “Kami menang – pada jam pertama semuanya sudah selesai.”
Namun pernyataan itu muncul ketika Selat Hormuz masih ditutup, sehingga memutus pasokan minyak dari Teluk, di tengah peringatan dari Iran—yang terus menyerang kapal—bahwa harga minyak bisa mencapai $200 per barel.
Harga minyak melonjak di atas $100 per barel pada hari Minggu dan kembali naik pada hari ini.
Besarnya tekanan ekonomi terhadap konsumen akan bergantung pada berapa lama perang berlangsung dan terutama seberapa cepat lalu lintas pelayaran dapat kembali ke Teluk.
Rachel Ziemba, peneliti senior di lembaga think tank Center for a New American Security, mengatakan: “Jika konflik berlarut-larut dan terutama jika intensitasnya tetap seperti sekarang, harga akan lebih tinggi dan lebih tidak stabil bagi konsumen.”
Namun jika perang berakhir cepat dan berakhir secara stabil, harga bisa segera kembali normal.
Jika perang berlangsung lebih dari beberapa minggu, para pengamat mengatakan ekonomi AS bisa mengalami dampak yang lebih dalam, seperti “stagflasi” ala 1970-an atau bahkan resesi.
Kapan resesi bisa terjadi?
Pada Kamis, International Energy Agency mengatakan dalam laporannya bahwa: “Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.”
Menurut Sam Ori, direktur Energy Policy Institute at the University of Chicago, dalam sejarah ketika harga minyak mencapai 4–5 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan tetap tinggi, hal itu selalu memicu resesi.
Amerika Serikat tidak akan mencapai ambang tersebut secepat pada 1970-an—ketika ekonominya jauh lebih bergantung pada minyak impor—tetapi Ori memperkirakan resesi dapat terjadi jika harga minyak bertahan sekitar $140 per barel sepanjang tahun.
Namun jika Selat Hormuz ditutup tanpa batas waktu, dampaknya bisa jauh lebih besar dan resesi bisa terjadi jauh lebih cepat.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menyalurkan lebih dari seperlima pasokan minyak dunia, melalui kapal tanker dari Teluk.
Ancaman terhadap ekonomi global ini menjadi indikator kuat bahwa konflik kemungkinan akan diselesaikan dengan cepat, karena sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak.
Namun perkembangan terbaru mulai mengikis keyakinan bahwa selat itu terlalu penting untuk benar-benar ditutup.






