Bagaimana Perang terhadap Iran akan Mempengaruhi Ekonomi AS?
Dampaknya bergantung pada seberapa cepat kapal tanker minyak dapat kembali melintas di Selat Hormuz, kata para ahli.
Ancaman stagflasi seperti 1970-an
Kenaikan harga dapat meningkatkan risiko stagflasi — kondisi ketika pertumbuhan ekonomi stagnan terjadi bersamaan dengan pengangguran tinggi dan inflasi tinggi. Itulah yang terjadi pada ekonomi AS saat krisis minyak tahun 1970-an.
Severin Borenstein dari Energy Institute at Haas mengatakan: “Ada kekhawatiran nyata tentang stagflasi lagi.”
Masalahnya, kondisi ini sangat sulit ditangani oleh Federal Reserve. Bank sentral memiliki dua pilihan yang saling bertentangan: menurunkan suku bunga untuk mendorong ekonomi (tetapi ini bisa memperburuk inflasi), atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi (tetapi ini bisa memperlambat ekonomi dan perekrutan tenaga kerja).
Menurut Ziemba, harga minyak yang tinggi membuat inflasi lebih sulit turun, sehingga Federal Reserve lebih sulit menurunkan suku bunga.
Akibatnya, suku bunga hipotek dan suku bunga jangka panjang lainnya kemungkinan tetap tinggi.
Dampak jangka panjang
Bahkan jika perang berakhir besok, konflik ini mungkin sudah mempercepat perubahan geopolitik jangka panjang.
Robert Rogowsky dari Georgetown University mengatakan serangan AS terhadap Iran merupakan: “suntikan adrenalin bagi pergeseran global yang sudah berlangsung”.
Banyak negara kekuatan menengah kini berusaha mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat, yang dapat memengaruhi perdagangan global dan ekonomi AS.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan mulai memikirkan kembali risiko rantai pasokan di Timur Tengah. Membuat rantai pasokan lebih aman kemungkinan akan meningkatkan biaya bagi konsumen.
Belanja militer dan anggaran AS
Perang juga berarti biaya jangka panjang bagi Amerika Serikat. Heidi Peltier dari proyek Costs of War Project mengatakan biaya perang tidak hanya soal operasi militer, tetapi juga: pembayaran utang, perawatan kesehatan veteran.
Ia mencatat bahwa AS telah menghabiskan setidaknya $1 triliun hanya untuk bunga utang dari perang di Irak dan Afghanistan.
Belanja militer juga cenderung menciptakan lebih sedikit lapangan kerja dibandingkan investasi pemerintah di sektor seperti pendidikan atau kesehatan.
Peltier menutup dengan pertanyaan sederhana: “Jika kita menghabiskan uang untuk perang ini, lalu untuk apa kita tidak lagi punya uang?” []
Meg Duff
Sumber: Al Jazeera






