Bagaimana Pertandingan Mesir–Argentina Berubah Menjadi Referendum tentang Palestina
Keputusan-keputusan yang diperdebatkan dan bendera-bendera yang saling berhadapan menunjukkan bagaimana Palestina kini membentuk perdebatan tentang kekuasaan dan keadilan dalam olahraga.
Pertandingan yang Dilihat Melalui Lensa Palestina
Laga Mesir–Argentina berlangsung di tengah latar politik yang jauh lebih besar. Tanpa drama politik dan tanpa bayang-bayang Palestina, kontroversi pertandingan ini mungkin hanya akan menjadi perdebatan biasa. Hal itu hanya akan seputar keputusan wasit dan prosedur VAR.
Namun, pertandingan ini terjadi pada momen sejarah tertentu. Saat ini terdapat kasus dugaan genosida oleh Israel di Mahkamah Internasional dan kecaman global yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel.
Dukungan internasional yang luas terhadap perjuangan Palestina juga sedang menguat, termasuk di dunia olahraga.
Bagi jutaan penggemar sepak bola, terutama di dunia Arab dan Muslim, Gaza telah menjadi contoh nyata dari tatanan global yang timpang. Di sana kekuasaan tidak hanya menentukan hasil, tetapi juga menentukan aturan yang dianggap sah untuk menilai hasil tersebut.
Israel telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar Gaza. Tindakan ini didukung oleh negara paling kuat di dunia, yang menurut para pengkritiknya melindungi Israel dari pertanggungjawaban.
Melalui lensa politik yang berpusat pada Palestina inilah pertandingan Mesir–Argentina ditafsirkan.
Gol Mesir yang dianulir dan tidak adanya pelanggaran untuk beberapa insiden yang melibatkan pemain Argentina dianggap sebagai pengulangan pola yang sudah dikenal. Penolakan wasit menggunakan VAR setelah dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah di kotak penalti juga memperkuat hal itu.
Pihak yang lebih kuat dianggap mendapatkan keuntungan dari keraguan. Sementara itu, institusi yang seharusnya netral tampak menerapkan aturan secara tidak setara.
Ini tidak serta-merta berarti FIFA diam-diam berkonspirasi untuk memastikan kemenangan Argentina. Namun, kekuasaan dan bias tidak selalu membutuhkan rencana yang disengaja.
Reaksi luas terhadap pertandingan ini tidak dapat dipisahkan dari krisis kepercayaan yang lebih besar terhadap institusi global. Mereka mengklaim netralitas tetapi beroperasi dalam lingkungan yang sangat tidak setara.
Bagi jutaan penggemar sepak bola yang mendukung perjuangan Palestina, luka dari pertandingan Mesir–Argentina kemungkinan tidak akan cepat hilang.
Namun, yang juga tidak akan mudah dilupakan adalah gambar Hossam Hassan mengibarkan bendera Palestina. Ia telah menggunakan panggung olahraga terbesar di dunia untuk berbicara tentang penderitaan rakyat Palestina. []






