Benturan Nilai-Nilai Islam vs Barat
Kedua: Islam mengatur semua kehidupan manusia.
Menurut Barat, agama itu hanya urusan pribadi. Yakni hanya agama ritual semata. Agama tidak mengatur keluarga, masyarakat dan negara. Urusan-urusan di luar pribadi diatur dengan akal dan “syahwat” mereka. Mereka sekuler, memisahkan agama dari kehidupan manusia. Dampaknya masyarakat menjadi rusak, pemimpin menjadi haus perang, pejabat banyak yang rakus harta, zina dan minuman keras menyebar dan moral msyarakat menjadi hancur. Lihatlah tingkah laku masyarakat dan pemimpin di Amerika dan Israel.
Islam adalah agama yang sempurna. Ia mengatur seluruh kehidupan umat manusia. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari masuk ke kamar mandi sampai menata negara. Aturan ini bukan untuk mengekang manusia, tapi aturan ini dibuat agar manusia bahagia. Aturan ini dibuat untuk keharmonisan satu manusia dengan manusia lainnya. Dan manusia yang dengan disiplin melakukan aturan itu (syariat Islam) merasakan kebahagiaan.
Kenapa? Ya karena seorang Muslim mempunyai harapan bahwa mereka melakukan syariat itu mendapat pahala yang besar dari Tuhan yang menciptakan (Allah SWT). Ada harapan kebahagiaan, masuk surga setelah kaum Muslim meninggal dunia. Dobel kebahagiaan melaksanakan syariat, bahagia di dunia dan setelah dunia (akhirat).
Barat, dimana penduduknya banyak yang ateis, tidak percaya pada akhirat. Sehingga mereka melakukan apa saja di dunia ini untuk mereguk kenikmatan sebesar-besarnya. Keinginan (syahwat) yang bergejolak yang dituruti inilah menyebabkan mereka akhirnya melakukan kerusakan moral yang luar biasa di sana. LGBT merebak, penyiksaan terhadap tahanan musuh di luar nalar, minuman keras dimana-mana, syahwat menguasai dunia, sombong merasa dirinya paling hebat dan lain-lain.
Al-Qur’an menjelaskan berulang-ulang kehidupan setelah mati pasti terjadi. Hal ini pernah terjadi di masa Rasulullah saw, dimana seorang kafir datang dengan membawa tulang datang kepada Rasulullah dan bertanya, mungkinkah manusia akan dihidupkan lagi? Rasulullah terdiam sejenak, kemudian turunlah wahyu,
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”
قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (QS Yasin 78-79).
Ketiga: Barat memperkuat negara dengan senjata (militer), Islam memperkuat negara dengan ilmu.
Senjata atau militer digunakan Barat untuk menakut-nakuti negara lain. Militer dikembangkan untuk memperbudak negara atau individu. Sistem militer saat ini, bila kita cermati seperti sistem perbudakan. Para jenderal hidup dengan bergelimang kemewahan, sedangkan para prajurit kebanyakan miskin. Dalam sistem militer saat ini, prajurit tidak berkembang akalnya. Selama mereka menjadi prajurit, kebodohan akan melekat pada mereka. Bila terjadi perang, para prajurit inilah yang sengsara. Karena para jenderal duduk manis di belakang meja menyuruh prajuritnya berperang. Maka jangan heran, setelah perang usai, para prajurit ini banyak yang marah kepada para jenderal atau komandannya. Lihatlah kejadian di Amerika dan Israel setelah mereka berperang.
Apakah Islam dibangun dengan kekuatan militer? Tidak. Islam dibangun dengan kekuatan ilmu. Militer kadang dibutuhkan kadang tidak. Militer hanya perlu dibangun ketika negara mendapat ancaman dari negara lain. Apabila tidak ada ancaman, maka yang dikembangkan adalah ilmu. Dan di zaman internet ini, militer sebenarnya sudah tidak dibutuhkan. Negara-negara yang mengembangkan militernya, sebenarnya negara yang ketinggalan zaman.
Abad ini adalah abad internet. Abad kerjasama, abad berbagi dan abad musyawarah. Di zaman internet ini hampir semua kejadian, dapat ditelusuri dengan detail. Masalah satu negara dengan negara lainnya bisa dilakukan musyawarah atau dialog. Tidak dengan perang. Karena perang merugikan bagi siapapun, bagi yang kuat maupun yang lemah.
Islam atau kelompok Islam sering dituduh teroris. Terutama oleh Israel dan Amerika. Padahal bila dicermati, Israel dan Amerika lah teroris sebenarnya. Teroris yang terbesar di dunia. Bagaimana tidak, Amerika sering melakukan kejahatan besar yang korbannya ratusan ribu orang. Lihatlah ketika Amerika menggunakan bom atom untuk menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima (1945). Tahun 2003 silam, ketika Amerika menyerbu Irak jumlah korban lebih dari 500 ribu orang. Israel, dari tahun 1948 sampai sekarang, telah membunuh ratusan ribu Muslim Palestina.
Amerika dan Israel beralasan bahwa mereka menghancurkan teroris. Menghancurkan kelompok manusia yang membahayakan dunia. Padahal merekalah teroris yang sebenarnya, teroris yang terbesar di dunia. Mengapa? Jumlah korban perang akibat sikap sombong dua negara itu jumlahnya jutaan.






