Benturan Nilai-Nilai Islam vs Barat
Seorang ulama (cendekiawan Islam) tidak memisahkan kata dan perbuatan. Perkataan harus sesuai dengan perbuatannya. Seorang ulama hanya takut pada Allah. Ia tidak takut pada manusia. Ia yakin bahwa dengan taat pada Allah, maka Allah akan menjaganya dan memberinya kebahagiaan baik di dunia maupun setelah dunia.
Seorang ulama mendidik murid-muridnya agar menjadi anak yang shalih, cerdas dan kreatif. Shalih adalah tujuan pertama pendidikan. Tidak ada gunanya murid itu pintar sains, hebat dalam bahasa, tapi ia tidak pernah shalat dan menyimak Al-Qur’an. Shalih adalah taqwa. Yakni orang yang berusaha semaksimal mungkin untuk taat pada Allah dan RasulNya. Di sini anak-anak dididik dengan Al-Qur’an, Sunnah, sejarah Islam, dan lain-lain. Shalat wajib, shalat sunnah/tahajud, pemahaman Al-Qur’an anak-anak terus dipantau oleh sang guru.
Cerdas, maknanya ulama melatih anak-anak agar mempunyai fikiran yang tajam dan ingin tahu yang tinggi. Anak-anak dididik agar lebih cinta ilmu daripada harta. Pelajaran sains Islam, matematika, fisika, kimia, bahasa Arab/Inggris dll diberikan kepada mereka.
Kreatif, maknanya ulama melatih anak-anak dapat melahirkan inovasi-inovasi yang berguna bagi manusia. Baik bentuknya tulisan, perkataan, atau benda-benda yang berguna bagi manusia. Di sini pelajaran manajemen, menulis/mengarang, public speaking dan sejenisnya diberikan kepada mereka. Mereka dilatih untuk membuat inovasi-inovasi yang berguna bagi manusia. Bukan inovasi-inovasi yang merugikan atau membuat hancur manusia, seperti persenjataan militer/nuklir dan sejenisnya.
Al-Qur’an berpesan,
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fathir 28)
Seorang ulama tidak hanya mengajar murid-muridnya. Di negerinya dan di dunia ia berusaha semaksimal mungkin menegakkan keadilan. Sebab, tanpa keadilan sebuah negara akan rusak dan dunia bisa hancur. Karena banyak dilanda peperangan dan kezaliman.
Allah SWT mengingatkan,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menegakkan keadilan). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Ali Imran 18)
Wallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






