NUIM HIDAYAT

Benturan Nilai-Nilai Islam vs Barat

Begitulah kebebasan yang tidak ada pagar (tidak ada pembatas), akhirnya manusia jatuh ke jurang yang mungkin ia tidak lihat sebelumnya.

Syariat Islam hadir untuk memagari kebebasan manusia agar tidak jatuh ke jurang. Jurang kegundahan, jurang bunuh diri, jurang kesombongan, dan terutama jurang neraka. Dengan pagar syariat Islam itu maka manusia merasakan kenikmatan/kebahagiaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena ada harapan kebahagiaan hidup setelah mati (surga).

Masyarakat yang sering berzina (menabrak pagar) akhirnya jatuh ke LGBT. Mereka tidak lagi merasakan nikmatnya hubungan seksual suami istri. Mereka merasa nikmat kalau hubungan seks dengan sesama jenis. Hubungan sesama jenis pun nanti akan timbul kebosanan, sehingga mencoba hubungan seks dengan hewan. Dan nafsu syahwat yang terus dituruti itu akhirnya bisa membuat dirinya ingin kenikmatan yang lebih tinggi lagi, yaitu dengan minum pil ekstasi (narkoba), menghisap ganja dan lain-lain.

Islam tentu saja tidak mengabaikan fitrah manusia untuk menikah itu. Kenikmatan seks bisa didapat dengan pernikahan. Bahkan bagi laki-laki yang mempunyai gejolak seks besar dan mampu berbuat adil, bisa menikah lebih dari satu (untuk menghindari perzinahan).

Kebebasan mutlak berbicara juga menjadi bahaya. Lihatlah di Amerika sering terjadi pembunuhan. Mereka mungkin tidak tahan dengan cacian orang lain, sehingga berniat untuk membunuhnya. Amerika tidak bisa mengatur peredaran senjata di negerinya sendiri (sok ngatur negara lain).

Dalam Islam berbicara diatur, yakni dilarang berbicara bohong, fitnah dan caci maki. Tapi seorang Muslim juga harus mempunyai mental yang kuat, menghadapi abad kebebasan bicara saat ini. Karena kebebasan berbicara kadang diperlukan untuk mengerem tindakan fisik (perkelahian/pembunuhan). Dengan bebas berbicara, maka emosi seseorang akan terlampiaskan tanpa mengambil tindakan fisik.

Mengapa dalam Islam kebebasan bukan isu utama yang harus diperjuangkan? Ya karena kebebasan lebih banyak ditimbulkan oleh nafsu belaka. Manusia hidup di dunia yang dicari bukan kebebasan, tapi kebahagiaan. Kebahagiaan kadang didapat dengan kebebasan dan kadang dengan aturan.

Misalnya, seorang Muslim merasakan kebahagiaan ketika shalat. Padahal dalam shalat banyak aturannya. Begitu juga seorang Muslim merasakan kebahagiaan ketika puasa, sedekah, zakat, berdoa, jihad dan lain-lain.

Baca juga: Kebebasan dan Kebahagiaan

Kelima: Ilmu untuk Tujuan Materi vs Ilmu untuk Makrifatullah

Mencari ilmu di Barat tujuannya adalah untuk keduniaan (materi). Agar dapat kekayaan lebih banyak, jabatan lebih tinggi dan sejenisnya. Karena pengalaman traumatiknya dalam sejarah hubungan dengan gereja, maka pemerintahan di Barat memisahkan negara dengan gereja. Akibatnya ilmu menjadi sekuler, ilmu terpisah dengan agama.

Maka jangan heran di Barat, ilmuwan-ilmuwannya banyak yang berzina atau mabuk minuman keras. Mereka banyak yang menganggap bahwa ilmu hanya pengetahuan di fikiran belaka. Tingkah laku berlawanan dengan ilmu tidak masalah. Maka jangan heran muncul para orientalis yang melayani imperialisme.

Dalam Islam, tujuan mencari ilmu adalah agar semakin dekat dengan Allah. Makin berilmu seseorang makin tiggi ibadahnya. Makin berilmu seseorang makin sering menelaah Al-Qur’an, makin sering bersedekah, dan makin sering beramal shalih.

Bila seorang ulama berzina, maka dilarang dalam Islam mereka mengajar. Ulama itu harus tobat dulu sebenar-benarnya. Setelah bertahun-tahun tobat dan tidak mengulangi lagi kesalahannya, maka ia baru boleh mengajar.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button