Bom di Depan Rumah Zohran
Ironisnya, saat ditanya apakah ia ingin meniru bom Boston Marathon 2013, Balat menjawab: “Tidak, bahkan lebih besar. Itu hanya tiga kematian.” Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa kekerasan baginya bukanlah alat, melainkan tujuan itu sendiri. Pola ini serupa dengan para pelaku di Nigeria, Afghanistan, dan negara-negara lain yang tercatat dalam timeline ISIS 2026: mereka adalah produk radikalisasi daring yang mengglobal.
Kedua, ironi protes yang mempertemukan dua ekstremisme.
Demonstrasi anti-Islam yang diorganisir oleh influencer sayap kanan anti-Muslim, Jake Lang yang sengaja digelar di luar kediaman walikota Muslim pertama New York. Lang membawa babi panggang dan kambing untuk mengecam apa yang disebutnya “pengambilalihan” kota oleh Muslim. Namun kemarahan terhadap Islamofobia justru berubah menjadi tindakan teror atas nama ISIS.
Dua kebencian yang berbeda ideologi bertemu dalam satu titik—kekerasan. Wakil Jaksa Agung Todd Blanche mencatat bahwa para pelaku “berusaha menimbulkan korban massal untuk mengabdi pada ISIS dengan harapan melampaui kekejaman bom Boston Marathon.”
Sementara itu, Walikota Mamdani menunjukkan kedewasaan langka dengan menyatakan bahwa protes anti-Islam itu “mengerikan” tetapi tetap harus diizinkan, karena “kebebasan berekspresi tidak hanya milik mereka yang saya setujui.”
Peristiwa di atas adalah cermin bagi demokrasi yang sedang diuji. Di satu sisi, kebebasan berekspresi memberi ruang bagi protes anti-Islam yang penuh kebencian. Di sisi lain, algoritma media sosial tanpa sengaja menyuburkan radikalisme di kalangan remaja yang seharusnya sibuk dengan masa depan mereka. Zohran Mamdani selamat bukan karena sistemnya kuat, tetapi karena bomnya gagal meledak.
Di Nigeria, 162 orang tidak seberuntung itu. Di Islamabad, 31 keluarga kehilangan anggota mereka. Peristiwa itu juga menunjukkan bahwa terorisme ternyata masih ada dan ‘radikalisasi via internet’ masih nyata.[]






