NASIONAL

Bom Waktu ‘Bullying’

Insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta baru-baru ini menggemparkan publik. Dari hasil penyelidikan, bom rakitan itu ternyata dibuat oleh siswa yang diduga mengalami tekanan mental akibat perundungan di sekolah. Peristiwa ini bukan sekadar kasus individu, melainkan potret buram dunia pendidikan yang sedang menyimpan “bom waktu” sosial.

Berulang kali, kasus bullying mencuat. Namun setiap kali pula kita disuguhi pola yang sama: publik geger, pemerintah reaktif, lalu isu mereda tanpa solusi mendasar. Pertanyaannya, mengapa perundungan tak kunjung berhenti, padahal berbagai program anti-bullying, kurikulum karakter, dan pendidikan P5 terus digembar-gemborkan?

Kaca Benggala Sistem Pendidikan Sekuler

Asas sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan, menjadi pondasi sistem pendidikan kita. Dalam asuhan ideologi kapitalisme, sekolah hanya menjadi pabrik pencetak tenaga kerja yang siap diserap pasar. Ukuran keberhasilan dinilai dari skor ujian, peringkat, dan prestasi duniawi, bukan dari ketaatan pada Allah termasuk akhlak.

Alhasil, terjadi kemorosotan nilai kemanusiaan. Peserta didik terbiasa bersaing untuk mengungguli dan menjatuhkan, bukan untuk berbuat baik. Mindset pun terbentuk: siapa yang kuat maka dia menang. Mempermalukan si lemah dianggap hal yang pantas. Mental seperti inilah yang melahirkan pelaku bullying tak pernah merasa bersalah.

Di sisi lain, fungsi pembinaan akhlak justru tergerus dari sekolah. Guru tak lagi dianggap teladan sebagai sosok yang digugu dan ditiru, tetapi hanya fasilitator dalam belajar. Nilai-nilai agama hanya sebatas teori moral tanpa menyentuh aspek keyakinan dan pengamalan. Pembinaan keimanan mendalam dan kaffah pun dicap “intoleran”, alhasil lahirlah generasi yang kehilangan arah dan nir empati.

Demikianlah potret buram dari sistem sekuler kapitalisme: pendidikan yang menihilkan ruh, hukum yang tak berefek, dan masyarakat yang apatis. Semua berputar dalam lingkaran materialisme yang kian memperparah kerusakan moral generasi.

Sanksi yang Lemah, Penyakit yang Mengakar

Di bawah sistem hukum kapitalis, sanksi bagi pelaku kekerasan di sekolah cenderung ringan dan tidak memberi efek jera. Label “anak di bawah umur” membuat pelaku sering lolos dari tanggung jawab penuh. Padahal, Islam menilai seseorang balig dan berakal sebagai ukuran hukum, bukan semata usia kronologis.

Hukum buatan manusia sering kali kontradiktif. Guru yang menegur keras dianggap melanggar UU Perlindungan Anak, sementara pelajar yang menghina atau menganiaya temannya justru dilindungi dengan dalih masih remaja. Hasilnya, otoritas pendidik hilang, dan peserta didik merasa bebas tanpa batas.

Sistem ini tidak mampu menegakkan keadilan, karena tidak bersumber dari Zat Yang Maha Adil. Selama hukum ditegakkan berdasarkan kompromi manusia dan kepentingan politik, kasus serupa akan terus berulang.

Sistem Pendidikan Islam: Menanam Iman, Melahirkan Takwa

Islam memiliki sistem pendidikan yang khas dan ideologis, dibangun di atas akidah Islam. Tujuan pendidikannya bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah). Yakni individu yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang terikat pada syariat Allah.

Islam menggabubgkan ilmu dengan amal, pelajaran tidak berhenti hanya sekadar teori. Setiap ilmu diarahkan agar menjadi amal. Pendidik tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi membersamai peserta didik dalam memantapkan iman dan membina akhlak. Ada ruh di setiap ilmu, yaitu kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah. Dengan cara ini, peserta didik akan berpikir ribuan kali untuk menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain. Sebab mereka memahami bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Dalam kitab Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa tsaqafah Islam harus dipelajari secara mendalam, diyakini kebenarannya, dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk keimanan yang menggerakkan amal saleh, bukan sekadar transfer ilmu.

1 2Laman berikutnya
Back to top button