NUIM HIDAYAT

Bung Hatta

Permasalahannya dasar negara itu adalah konsep atau kertas. Sebuah negara tidak hanya perlu konsep yang bagus, tapi orang atau pemimpin yang menjalankannya juga bagus. Konsep bagus, pemimpin rusak, negara ikut rusak. Konsep kurang bagus, pemimpinnya bagus negara bisa bagus. Karena pemimpin lah yang menerjemahkan konsep-konsep itu. Dari sini kita bisa membanding Turki, Timur Tengah dan Indonesia.

Kembali soal Hatta. Hatta ilmu dan akhlaknya bagus, tapi ia bukan seorang pemimpin. Ia seorang dosen dan administrator yang bagus.

Indonesia perlu pemimpin seperti Soekarno. Tapi yang ilmu dan akhlaknya bagus. Soekarno banyak cacat dalam sejarah hidupnya. Meski ia juga punya andil besar dalam kemerdekaan Indonesia. Kelebihan Soekarno adalah dalam ‘keberanian’, kreativitas dan semangatnya dalam kemandirian.

Mohammad Natsir adalah “kebalikan” dari Soekarno. Baik dalam ilmu dan akhlaknya. Jasa-jasanya dalam menyatukan dan memajukan Indonesia, diakui baik secara nasional maupun internasional. Hanya mereka yang berfikiran picik yang tidak mengakui jasa besar Natsir dalam awal-awal kemerdekaan RI.

Dan nampaknya idolalisasi Soekarno vs Natsir akan terus berlangsung di negara yang kita cintai ini. Natsir dan Hatta adalah berkawan baik. Ketika Hatta mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII), Natsir sebagai sekretarisnya.

Masing-masing tokoh bila kita pelajari ada kelebihan dan kelemahannya. Sebagai seorang Muslim mesti bisa mengambil hikmahnya. Kita ambil kelebihannya dan kita tinggalkan kekurangannya. Semoga Allah memberikan kita pemimpin terbaik untuk bangsa ini. Wallahu azizun hakim. []

Nuim Hidayat, Dosen Akademi Dakwah Indonesia, Depok.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button