NUIM HIDAYAT

Dakwah, Kemenangan dan Upah

Menang tanpa ngasorake. Itulah pepatah jawa yang bagus. Bila kita menang melawan musuh, janganlah buat musuh terhina. Musuh itu memusuhi kita karena ketidaktahuannya. lihatlah bagaimana ketinggian akhlak Rasulullah ketika dakwah di Thaif. Rasulullah datang dengan baik-baik tapi disambut dengan lemparan batu. Bukan hanya orang dewasa yang melempar, bahkan anak-anak pun melemparinya.

Sehingga saat itu malaikat mendekat kepada Rasul dan marah. Apakah orang-orang Thaif itu perlu dihujani batu dari gunung. Rasulullah menolak tawaran dari malaikat itu. Rasul menyatakan Allahumahdi qaumin fainnahum la ya’lamun. Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak memahaminya.

Itulah sifat Rasulullah yang perlu diteladani para dai. Memaafkan bila ada mad’u bersikap kasar atau menjengkelkan. Memaafkan bila tidak diberi transport, tidak disuguhi apa-apa dan lain-lain.

Kita dakwah saat ini enak. Pendengar mau dengarkan dan pulang sering diberi amplop. Di zaman Rasulullah dan sahabat berdakwah sangat berat. Bukan amplop yang didapat, tapi hinaan, cemoohan dan kadang-kadang kekerasan. Ada beberapa sahabat yang disiksa dan dibunuh karena ikut dakwah Rasul.

Jadi kalau kita berdakwah mengharapkan amplop, adalah salah besar. Dakwah itu membawa ayat-ayat Allah yang mahal harganya. Tidak bisa dihargai dengan upah dunia. Upah di akhirat itu yang kita harapkan. Diridhai Allah, dimasukkan surga dan dijauhkan dari neraka.

Bila dakwah, mendapat amplop alhamdulillah, gak mendapat juga gak apa-apa. Tetap kita bersyukur, karena diberi kesempatan Allah untuk menyebarkan dakwah kita. Diberi kesempatan Allah untuk membagi ilmu kita. Bukankah dengan membagi ilmu, Allah akan menambahkan ilmu baru bagi kita?

Dakwah kita saat ini belum ada apa-apanya dibanding zaman Rasulullah atau zaman ketika kediktatoran berkuasa. Zaman Rasulullah, mereka yang menyeru Islam mendapat siksaan atau diancam kematian. Di zaman Gamal Abdul Nasser (Mesir), mereka yang berdakwah -seperti Sayid Qutb dan Ikhwanul Muslimin- terancam dipenjara dan dihukum mati.

Tapi pejuang Ikhwan memang hebat. Mereka tidak takut sama sekali dengan kematian. Meski organisasi mereka dilarang, aktivis-aktivis mereka dipenjara, buku-buku mereka dilarang, mereka terus berdakwah, mereka tidak takut dengan ancaman dari penguasa yang zalim.

Kekuatan apa yang mereka miliki, sehingga mereka tidak takut penjara dan kematian? Kekuatan iman. Kekuatan ilmu. Kekuatan dakwah. Kekuatan dan keyakinan karena mereka mengajak kepada kebaikan. Mengajak kepada kebenaran. Mengajak kepada al Jannah. Mengajak kepada kebahagiaan sejati di akhirat nanti (dan dunia).

Maka dalam Al-Qur’an berulang-ulang dikatakan bahwa para Nabi (dai) itu tidak mengharapkan upah dalam menyampaikan dakwah. Misal dalam surat al-Furqan [25] ayat 57, “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.”

Hal seperti ini juga difirmankan Allah Ta’ala kepada Nabi Nuh AS sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an surat As-Syu’ara [26] ayat 109, “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.”

Demikian pula diungkap oleh Nabi Hud AS dalam surat yang sama ayat 127, “Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam,” serta Nabi Saleh (Asy-Syu’ara [26]: 145), Nabi Lut (Asy-Syu’ara [26]: 164), dan Nabi Syuaib (Asy-Syu’ara [26]: 180). (Lihat: hidayatullah.com)

Wallahu ghafurur rahim. []

Nuim Hidayat

Artikel Terkait

Back to top button