#Ramadhan 1447 HRESONANSI

Dekonstruksi Konsumerisme “Buka Bersama”

Konsumsi Simbolik dan Manipulasi Citra (Perspektif Jean Baudrillard)

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori konsumerisme yang banyak dibahas dalam kajian sosiologi modern. Jean Baudrillard, pemikir Prancis, melihat konsumsi bukan sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan juga memproduksi simbol dan identitas.

Dalam karyanya “Symbolic Exchange and Death”, ia menegaskan bahwa konsumsi simbolik semakin mengendalikan masyarakat modern.

Media dan industri menciptakan realitas semu yang mendorong perilaku konsumtif dengan memanipulasi kebutuhan dan keinginan individu. Buka bersama tidak lagi sekadar makan setelah puasa, tetapi juga menjadi simbol status sosial. Lokasi restoran, jenis hidangan, hingga dokumentasi foto di media sosial menjadi bagian dari produksi citra diri.

Lebih jauh lagi, kapitalisme telah berhasil mengemas simbol dan emosi ke dalam strategi pemasaran yang canggih. Ramadan, dengan muatan spiritual dan kultural yang kuat, menjadi ruang yang mudah diserap ke dalam mekanisme pasar.

“Masyarakat Pertunjukan” di Ruang Digital

Transformasi buka bersama semakin diperkuat oleh media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Hampir setiap acara buka bersama kini diakhiri dengan foto kelompok yang kemudian diunggah secara daring, lengkap dengan caption yang dirancang sedemikian rupa.

Di sini, pengalaman religius berubah menjadi peristiwa representasi. Yang penting bukan hanya berbuka, tetapi juga menunjukkan bahwa seseorang hadir dalam momen tersebut.

Fenomena ini mengingatkan pada konsep “masyarakat pertunjukan” dari Guy Debord, yang menyatakan bahwa kehidupan sosial modern sering kali berubah menjadi pertunjukan citra.

Nilai suatu aktivitas tidak lagi diukur dari maknanya, melainkan dari bagaimana ia ditampilkan. Dokumentasi tadarus, pembagian bantuan, hingga suasana berbuka bersama beredar luas. Kedermawanan berpotensi menjadi konten. Kesalehan bisa berubah menjadi performa.

Dilema Ekonomi dan Tekanan Sosial

Dekonstruksi konsumerisme buka bersama juga memperlihatkan adanya tekanan sosial yang halus namun nyata. Banyak orang merasa tidak enak menolak undangan buka bersama, bahkan ketika secara finansial hal itu memberatkan. Bagi sebagian orang, terutama pekerja muda atau mahasiswa dengan penghasilan terbatas, fenomena ini dapat menciptakan beban ekonomi terselubung.

Data dari berbagai negara Muslim menunjukkan bahwa Ramadan sering kali menjadi salah satu musim belanja terbesar dalam setahun. Bank Indonesia mencatat bahwa uang beredar selama Ramadan dan Idulfitri mencapai angka yang sangat signifikan. Ironisnya, bulan yang seharusnya menekankan pengendalian diri justru berubah menjadi periode konsumsi yang meningkat.

Sisi Lain: Geliat Ekonomi Lokal dan Solidaritas

Untuk memahami secara lebih berimbang, perlu dilihat sisi positif dari fenomena ini. Aktivitas konsumsi selama Ramadan memberikan dampak bagi roda ekonomi. Pelaku usaha kecil dan menengah yang menjual takjil, makanan berbuka, atau parcel Lebaran mendapatkan berkah ekonomi dari musim ini.

Ramadan secara tradisional juga mendorong peningkatan kedermawanan. Zakat, infak, dan sedekah meningkat drastis. Berbagai kegiatan filantropi menunjukkan bahwa solidaritas sosial masih tumbuh subur. Ramadan juga menjadi ajang kreativitas kuliner dan pasar takjil menjadi ruang ekspresi budaya yang meriah dan inklusif.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button