Dekonstruksi Konsumerisme “Buka Bersama”
Ironisnya, bulan yang seharusnya menekankan pengendalian diri justru berubah menjadi periode konsumsi yang meningkat.
Pergeseran Makna: Dari Spiritual ke Panggung Konsumsi
Fenomena buka bersama pada bulan Ramadan, yang dalam bahasa gaul kini kerap disebut “bukber”, bermula dari praktik sosial yang sederhana. Berbagi waktu berbuka puasa dengan keluarga, sahabat, atau komunitas setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Namun dalam dua dekade terakhir, praktik ini mengalami pergeseran makna yang fundamental. Ia tidak lagi sekadar peristiwa spiritual dan sosial, tetapi juga menjadi panggung konsumsi yang kian kompleks.
Dari sudut pandang kritis, fenomena ini menarik untuk dibaca sebagai bentuk konsumerisme religius—sebuah persilangan antara spiritualitas, identitas sosial, dan logika pasar yang beroperasi secara halus namun sistemik.
Dalam tradisi Islam, berbuka puasa adalah momen yang mengajarkan kesederhanaan. Nabi Muhammad bahkan menganjurkan berbuka dengan kurma dan air. Intinya adalah rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa. Nilai-nilai fundamental ini mengajarkan bahwa kebersamaan tidak harus diukur dari kemewahan hidangan, melainkan dari keikhlasan berbagi.
Namun dalam praktik sosial modern, buka bersama berkembang menjadi agenda yang hampir wajib. Kalender Ramadan di kota-kota besar sering dipenuhi undangan: buka bersama teman sekolah, rekan kantor, komunitas hobi, hingga reuni yang sebenarnya tidak ada kaitan langsung dengan ibadah puasa.
Ritual Sosial dan Peneguhan Identitas (Perspektif Pierre Bourdieu)
Fenomena ini memperlihatkan transformasi fungsi: dari ritual religius menjadi ritual sosial. Kehadiran seseorang dalam acara buka bersama bukan lagi sekadar untuk berbuka, tetapi untuk menjaga jaringan sosial, memperkuat relasi, atau sekadar mempertahankan eksistensi dalam lingkaran pergaulan.
Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, memberikan perspektif yang relevan. Ia mengingatkan bahwa konsumsi tidak semata-mata tindakan ekonomi, melainkan praktik sosial yang sarat dengan makna simbolik.
Pilihan terhadap makanan, tempat berkumpul, atau bahkan cara berpakaian saat buka bersama sering kali mencerminkan identitas dan posisi sosial seseorang dalam masyarakat. Dalam konteks Ramadan, menu berbuka yang beragam, pemilihan restoran tertentu, hingga busana muslim baru yang dikenakan dapat dibaca sebagai bentuk ekspresi diri dan peneguhan identitas sosial. Kesalehan pun dapat tampil dalam wujud simbolik yang terlihat dan diakui oleh lingkungan pergaulan.
Kapitalisasi Ramadan oleh Industri
Perubahan makna itu tidak terjadi di ruang kosong. Dunia bisnis dengan cepat membaca peluang. Restoran, hotel, dan pusat perbelanjaan memproduksi paket-paket buka puasa bersama dengan harga yang sering kali jauh di atas konsumsi harian.
Hotel berbintang menawarkan buffet Ramadan dengan harga mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per orang. Restoran menghadirkan paket grup dengan minimal kuota tertentu, sementara pusat perbelanjaan memperpanjang jam operasional untuk menangkap lonjakan konsumsi setelah berbuka. Di sini, Ramadan menjadi musim ekonomi yang sangat menggiurkan.






