#Ramadhan 1447 HRESONANSI

Dekonstruksi Konsumerisme “Buka Bersama”

Dampak Negatif: Kesenjangan dan Krisis Ekologis

Namun sisi negatifnya tak bisa diabaikan. Tekanan untuk mengikuti berbagai undangan buka bersama dapat menciptakan beban ekonomi, bahkan hingga menyebabkan utang konsumtif. Konsumerisme buka bersama justru dapat mempertegas kesenjangan sosial. Pilihan restoran mewah hanya dapat dijangkau oleh kelompok tertentu, menciptakan kontras yang tajam di ruang publik.

Dari perspektif yang lebih luas, budaya konsumerisme juga berkontribusi pada krisis ekologis. Produksi massal makanan, penggunaan plastik sekali pakai untuk kemasan takjil, dan limbah makanan yang meningkat selama Ramadan menjadi masalah lingkungan yang serius. Kita perlu belajar menghuni bumi dengan cara yang lebih berkesadaran.

Mengembalikan Esensi: Kesederhanaan adalah Kemewahan Sejati

Dekonstruksi tidak berarti menolak sepenuhnya tradisi buka bersama. Tradisi ini tetap memiliki nilai sosial yang penting. Namun pembacaan kritis diperlukan agar masyarakat tidak terjebak dalam logika konsumsi. Buka bersama dapat kembali dimaknai sebagai peristiwa kebersamaan yang sederhana. Ia tidak harus berlangsung di restoran mahal dan tidak perlu selalu dipamerkan di ruang digital.

Mengutip motto Fransiskan, “Nihil habentes, omnia possidentes”—dengan tidak memiliki apa-apa, namun memiliki segalanya. Kebebasan sejati dimiliki oleh mereka yang tidak dikuasai oleh benda-benda. Dalam kondisi sederhana, manusia bisa merasakan kemewahan immaterial: kebahagiaan, rasa syukur, dan kemampuan mengapresiasi keindahan di sekitarnya.

Penutup: Ramadan Sebagai Ruang Transformasi

Dekonstruksi konsumerisme bukanlah upaya meruntuhkan tradisi, melainkan mengembalikan esensi. Ramadan mengajarkan pengendalian diri dan empati. Jika makna ini dapat dihidupkan kembali, maka buka bersama akan kembali menjadi perayaan kecil dari rasa syukur.

Di tengah riuh promosi dan derasnya arus konten digital, esensi Ramadan sesungguhnya bersifat sunyi. Ia tumbuh dalam kesadaran personal yang mungkin tidak terlihat publik.

Jika Ramadan mampu melahirkan kesadaran kritis terhadap budaya konsumtif sekaligus memperdalam solidaritas sosial, maka ia tetap relevan sebagai ruang transformasi diri.[]

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button