Di Balik Layar Biru SNBP
Ia menghargai konsistensi, tetapi sekaligus mengaburkan spesialisasi. Konsekuensinya jelas: siswa harus unggul di semua lini. Tidak ada lagi ruang aman bagi yang hanya kuat di satu bidang.
Setelah euforia pengumuman mereda, perhatian kini beralih ke mereka yang tertinggal. Jalur ujian tulis menjadi medan berikutnya, dengan kuota tiga puluh hingga empat puluh persen dari total daya tampung.
Di sinilah pertarungan sebenarnya dimulai. Bukan lagi soal nilai rapor, tetapi kemampuan bernalar, berpikir kritis, dan bertahan dalam tekanan. Sistem seleksi tidak lagi sekadar menyaring yang pintar, tetapi juga yang tangguh.
Istriku akhirnya menutup ponselnya tanpa mengetik satu pun ucapan selamat. “Mungkin memang lebih baik diam,” katanya.
Kami memahami pesan sederhana negara: setiap pilihan memiliki konsekuensi. Jalur prestasi bukan lagi tiket keberuntungan. Ia adalah janji. Janji yang harus ditepati, bahkan sebelum perjalanan benar-benar dimulai.
Matahari mulai condong ke barat. Ribuan anak bangsa sedang menanti putusan di garis akhir. Ada yang tersenyum lega, ada pula yang menahan isak. Karena pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan hanya soal kursi yang dikunci, melainkan pilihan yang dipaksa untuk dipertanggungjawabkan.[]
Muhibbullah Azfa Manik






