Di Inggris, Suara Muslim Diperlakukan sebagai Masalah yang Harus Dikendalikan
Dari tuduhan sektarianisme hingga fitnah tentang “pemungutan suara keluarga”, pemilu lokal Inggris memperlihatkan kecurigaan yang muncul terhadap partisipasi politik Muslim.
Kekecewaan terhadap partai-partai arus utama menjelaskan sebagian keberhasilan Reform, tetapi partai itu juga memperoleh dukungan besar karena posisi keras mereka.
Posisi keras ini mencakup usulan pusat penahanan imigrasi skala besar yang mampu menampung puluhan ribu orang, penghapusan izin tinggal tanpa batas waktu (indefinite leave to remain), serta pendekatan konfrontatif terhadap integrasi dan identitas nasional.
Sebagian retorika Reform kadang-kadang tumpang tindih dengan narasi anti-Muslim dan Islamofobia yang dipromosikan oleh tokoh-tokoh ekstrem seperti Tommy Robinson dan Rupert Lowe, anggota parlemen yang memimpin partai populis sayap kanan Restore Britain.
Retorika ini mencakup penyebaran ketakutan tentang Islam politik, seruan deportasi massal, dan dorongan terhadap visi identitas budaya Inggris yang lebih terbatas.
Bahasa seperti itu semakin keras selama kampanye karena beberapa pendukung dan kandidat Reform mengunggah konten di media sosial yang terang-terangan bersifat Islamofobik, rasis, atau antisemit.
Phil Tierney, yang terpilih untuk Chelmsley Wood di Solihull dan difoto bersama wakil pemimpin Reform Richard Tice selama kampanye, pernah secara publik menulis di X bahwa ia seorang Islamofobik, menyebut Islam sebagai wabah, serta membagikan materi yang berargumen bahwa tidak boleh ada Muslim yang memegang jabatan publik.
Ben Rowe yang terpilih di Plymouth dilaporkan telah mendorong massa anti-Muslim selama kerusuhan Southport 2024 untuk menyingkirkan bangunan kotor itu ketika mereka melempari polisi yang melindungi sebuah masjid dengan batu bata.
Meskipun unggahan seperti itu tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi Reform, hal itu berkontribusi pada lingkungan yang membuat retorika semacam ini menjadi sangat terlihat dan ternormalisasi.
Muslim, seperti siapa pun, bukanlah kelompok yang seragam. Kami memilih berdasarkan berbagai isu yang dibentuk oleh pengalaman pribadi, prioritas lokal, dan kekhawatiran yang lebih luas.
Perumahan, biaya hidup, pendidikan, keamanan, layanan lokal, dan infrastruktur sangat penting bagi kami, sebagaimana isu-isu tersebut penting bagi semua orang.
Dalam isu nasional maupun internasional, termasuk krisis kemanusiaan, genosida di Gaza, dan hak asasi manusia, kami berdiri bersama tetangga dari semua agama maupun yang tidak beragama.






