Di Piala Dunia, Media Barat Mendirikan Pos Pemeriksaan Moral
Ketika para pemain dari Amerika Serikat dan Eropa cukup bermain sepak bola, para pesepak bola dari Global South (Belahan Bumi Selatan) justru harus diinterogasi soal politik.
Menjelang pertandingan melawan Mesir di Seattle, yang oleh penyelenggara setempat diberi label sebagai “Pride Match“, Iran dan Mesir sama-sama ditanya mengenai hak-hak LGBTQ. Seorang pejabat FIFA bahkan membacakan pernyataan bahwa Iran hanya ingin menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pertandingan.
Namun, media tetap bersikeras mengajukan pertanyaan tersebut. Pejabat Mesir juga melindungi para pemain mereka dari pertanyaan serupa.
Sekali lagi, persoalannya bukanlah bahwa hak-hak LGBTQ, perang, represi, diskriminasi, apartheid, atau genosida tidak penting. Semua itu sangat penting dan jurnalis memang harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit.
Tetapi, pertanyaan sulit tidak boleh berubah menjadi ritual yang hanya diwajibkan bagi pemegang paspor tertentu. Pemain Amerika tidak secara rutin diminta mempertanggungjawabkan pemboman yang dilakukan negaranya, kebijakan perbatasan, rasisme, kekerasan polisi, atau dukungan Washington kepada Israel.
Pemain Inggris tidak terus-menerus dimintai penjelasan mengenai ekspor senjata Inggris atau warisan kolonialnya. Pemain Prancis tidak diharapkan menjawab soal intervensi militer negaranya di Afrika.
Pemain Jerman pun tidak terus didesak menjelaskan tindakan Berlin menindak demonstrasi pro-Palestina. Bahkan, ketika tim-tim Eropa membawa isu politik ke lapangan, semua itu merupakan bentuk protes yang mereka pilih sendiri.
Contohnya seperti penggunaan ban lengan OneLove, aksi tim Jerman menutup mulut saat berfoto bersama di Piala Dunia Qatar 2022, atau tim Inggris berlutut pada Euro 2020. Itu bukan pengakuan dosa yang dipaksakan kepada mereka sebelum diizinkan berbicara.
Tidak ada wartawan yang mensyaratkan mereka mengecam pemerintah masing-masing sebagai harga untuk membahas pertandingan. Pesepak bola Barat diperlakukan sebagai individu yang kebetulan mewakili negaranya.
Sebaliknya, pemain dari Iran, Mesir, Afrika Selatan, Arab Saudi, Maroko, Senegal, atau Ghana jauh lebih mudah diperlakukan sebagai wakil dari rezim yang memerintah negara mereka. Bagi banyak pemain dari Global South, konferensi pers turnamen berubah menjadi semacam pos pemeriksaan ideologis.
Sebelum diizinkan berbicara tentang taktik, cedera, atau lini tengah lawan, mereka terlebih dahulu diminta menjelaskan pemerintah mereka. Mereka diinterogasi mengenai masyarakat mereka, agama mereka, hukum mereka, bahkan perang yang melibatkan negara mereka.
Terdengar familier? Ingat bagaimana narasumber Palestina kerap diwajibkan mengecam Hamas di awal setiap wawancara sebelum mereka diizinkan berbicara mengenai genosida di Gaza?
Tujuannya bukan untuk memperoleh kejelasan, melainkan untuk melakukan klasifikasi. Sejak awal telah ditetapkan hierarki moral percakapan itu: Israel baik, Hamas buruk.
Penderitaan rakyat Palestina baru boleh didengar setelah melewati pos pemeriksaan berupa persetujuan moral dari Barat. Logika yang sama tampak dalam konferensi-konferensi pers Piala Dunia ini.






