RESONANSI

Di Tengah Transisi Demokrasi, Kemanakah Bjorka?

Isu paling sentral di Indonesia dewasa ini—meski masih lebih kurang 1,5 tahun lagi menjelang Pilpres 2024, adalah saat diperlukan pentingnya persiapan menuju proses transisi demokrasi.

Yaitu, ditandai adanya sisa masa peralihan kepemimpinan Jokowi selaku Presiden yang sudah pasti akan berakhir, dengan menyongsong proses pergantian kepemimpinan baru melalui momentum memilih Presiden baru Indonesia.

Persoalannya, mengantarkan proses menuju transisi demokrasi itu akan berlangsung “amankah” atau yang akan terjadi justru sebaliknya?

Pertanyaan “amankah?” dalam tanda petik dikarenakan harus diakui di belahan negara dunia mana pun, kini ada dua entitas dunia baru dengan dua dunia, yaitu antara dunia nyata dan dunia maya.

Hebatnya, di antara dua dunia itu dunia maya tengah sangat signifikan mempengaruhi koeksistensi dunia nyata, dikarenakan dunia maya—sebagai perwujudan loncatan kemajuan koeksistensi teknologi digital komunikasi dan informasi yang membuncah penggunaan aplikasinya ke sistem episentrum penguasaan pengarahan dan pengerahan massa atau publik (mass directing and deployment system), menjadi koefisiensi dan koefektivitas yang sudah diakui banyak membantu mempermudah sebagian pekerjaan kemanusiaan dan kemasyarakatan “apapun” (humankind and society working) di dunia nyata.

Bermula dari kemunculan teknologi e-commerce yang membuktikan telah mempermudah upaya mengkolektivitas data untuk kepentingan dan kebutuhan bisnis di dunia ekonomi.

Itulah mengapa kemudian sangat mempengaruhi dengan sangat begitu mudah untuk beralih kepentingan dan kebutuhan mereview, merevaluasi dan mendidik ilmu pengetahuan di dunia politik, hukum, sosial bahkan kultural —sekalipun tidak hanya di level dan sistem nilai serta kebijakan bahkan menjangkau ke perihal pelaksanaan praktis dan teknisnya.

Maka, ketika di dunia maya itu kemudian telah bersentuhan dengan kepentingan dan kebutuhan “dunia media sosial”, seperti banyak sudah penggunaan aplikasinya yang muncul, seperti: facebook, instagram, WA, telegram, twitter, YouTube, Helo, Tiktok, dsb, transformasinya semakin disadari oleh massa-publik (sosial kemasyarakatan) itu seperti semakin menjadi “dunia nyata” itu sendiri.

Namun, seperti yang akan selalu terjadi ada saja gangguan dan ancaman yang mengakibatkan kemunculan premis “ketidakmapanan” dan “kerapuhan sosial di dunia nyata.

Demikian pula yang terjadi di dunia maya, gangguan dan ancaman itu akan selalu ada, tetapi berwujud berupa kemunculan “ulah dan trik” personal dan atau gerombolan para peretas (hackers) dalam situs-situs web internet yang merupakan salah satu jalan edar dari “pembuluh darah” menuju home based “jantungnya” dunia maya itu.

Tiba-tiba di tengah-tengah maraknya demo aksi bela rakyat naiknya harga BBM dan hingar bingarnya teriakan histeris hipotesis penelanjangan kebobrokan dan kejahatan institusi kepolisian dengan tragedi Sambo —adalah satu bagian lain juga dari besarnya kekacaubalauan pemerintahan sipil Jokowi yang justru terkesan menjadi otoritarianisme yang ujung-ujungnya ditandai “vested interested”serba dibaluti korupsi dan konspirasi. Apapun matriks masalahnya, BBM, penyusupan oligarki di kabinet, organisasi “hazard” Satgassus, hutang negara, kriminalisasi KPK, dsb.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button