FIFA Bukan Organisasi Olahraga Independen, FIFA Adalah Alat Politik
Para penggemar sepak bola di seluruh dunia baru sekarang mengetahui apa yang telah lama diketahui oleh bangsa Palestina.
Organisasi ini telah diubah menjadi alat politik yang mendukung kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan para sekutunya. Sosok Infantino sendiri menjadi gambaran yang sangat jelas mengenai realitas politisasi di dalam tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut.
Pada tahun 2018, tanpa alasan yang jelas, ia menghadiri penandatanganan resmi Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) di Washington. Perjanjian tersebut pada hakikatnya bertujuan untuk menghapus isu perjuangan Palestina dari agenda kolektif negara-negara Arab.
Pada tahun 2021, Infantino berpartisipasi dalam konferensi surat kabar sayap kanan Israel, The Jerusalem Post. Konferensi tersebut ironisnya digelar di sebuah tempat yang dibangun di atas pemakaman Muslim Mamillah yang dinodai di Yerusalem.
Pada bulan Februari, Infantino menghadiri peresmian Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang kontroversial di wilayah tersebut. Dewan ini berupaya mengakhiri keterlibatan PBB dalam urusan Palestina dan menghentikan setiap upaya hukum internasional untuk mengakhiri pendudukan serta genosida Israel.
Ia bahkan mengumumkan kemitraan strategis dengan dewan tersebut untuk mendorong pemulihan dan perdamaian melalui sepak bola. Berbagai kontroversi yang sedang berlangsung atas penyelenggaraan Piala Dunia saat ini harus dipahami dalam konteks politisasi tersebut.
FIFA telah kehilangan kendali atas pengambilan keputusan independennya sebagai sebuah organisasi olahraga internasional. Mereka telah melepaskan tanggung jawab utamanya untuk menjaga agar politik tetap berada di luar urusan sepak bola dunia.
Ketika ditanya tentang berbagai pelanggaran yang dilakukan AS sebagai tuan rumah terhadap pesepak bola, wasit, dan penggemar, Infantino justru memberikan respons santai. Ia hanya mengatakan kepada publik agar tetap tenang dan rileks dalam menghadapi situasi tersebut.
Semua kenyataan ini sangat merusak kepercayaan publik terhadap organisasi internasional seperti FIFA. Hal ini juga membahayakan masa depan sepak bola internasional dan reputasinya sebagai olahraga yang inklusif bagi semua bangsa.
Jika Infantino tidak mengubah jalurnya secara radikal, warisan yang akan ditinggalkannya adalah kehancuran bagi dunia olahraga. Adapun bagi sepak bola Palestina, olahraga ini dipastikan akan tetap bertahan di tengah segala macam tekanan.
Olahraga ini telah eksis sejak pembentukan tim Sekolah St. George di Yerusalem pada tahun 1904. Sejak saat itu, sepak bola telah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap momen kehidupan masyarakat Palestina.
Seperti halnya seluruh aspek kehidupan bangsa Palestina, sepak bola memiliki kekuatan untuk bertahan melewati pendudukan, genosida, dan FIFA yang korup. []
Xavier Abu Eid adalah seorang ilmuwan politik, kandidat doktor di Trinity College Dublin, dan mantan penasihat Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO).
Sumber: Aljazeera.com






