Filosofi Rajab dalam Tradisi Spiritualitas Islam (Bagian 2)
Ibnu Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menjelaskan bahwa kata-kata yang seakar dengan rajaba berkisar pada makna “menopang sesuatu dengan sesuatu yang lain dan menguatkannya.” Sementara itu, kata-kata yang seakar dengan jabara berkisar pada makna “keagungan, ketinggian, dan keteguhan.”
Sesuatu yang diagungkan adalah sesuatu yang dijadikan sandaran dan tumpuan oleh banyak orang, seakan-akan ia menopang dan menguatkan kehidupan mereka. Allah SWT memiliki Asmaulhusna al-Jabbār, yang menunjukkan bahwa hanya Dia-lah sumber pertolongan, tempat bersandar, dan pemberi kekuatan bagi hamba-hamba-Nya.
Pada bulan Rajab, umat Islam didorong untuk memperbarui dan meningkatkan ibadah kepada Allah sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Kemampuan untuk melaksanakan ibadah dengan ikhlas merupakan salah satu bentuk pertolongan Allah.
Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk bersungguh-sungguh “mengejar” pertolongan tersebut dengan tekad yang kuat. “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 214).
Barakatullāh (Keberkahan dari Allah)
Huruf bā’ (ب) dimaknai sebagai barakatullāh (بركة الله), yaitu keberkahan Allah. Barakah dimaknai sebagai bertambahnya kebaikan ilahiah pada suatu kebaikan yang telah ada. Sebagai contoh, memperoleh rezeki yang halal merupakan suatu kebaikan dan bagian dari rahmat Allah. Namun, ketika dari rezeki halal tersebut lahir kebaikan-kebaikan lain yang bersifat ilahiah—seperti meningkatnya semangat beribadah, ketenangan dalam keluarga, serta terjaganya keharmonisan hidup—maka itulah yang disebut sebagai keberkahan.
Pemaknaan tersebut dapat direfleksikan dalam konteks bulan Rajab. Seseorang yang mulai memperbarui kehidupannya dengan memperbanyak amal saleh pada bulan ini akan merasakan bahwa waktu yang dimilikinya terasa lebih lapang dan lebih bernilai. Inilah salah satu bentuk keberkahan.
Dengan meningkatnya kualitas ibadah, seseorang terdorong untuk hidup lebih disiplin dan teratur, sehingga berbagai aktivitas dan tanggung jawab yang dijalaninya terasa lebih ringan dan lancar. Inilah makna keberkahan dalam pengertian praktis, yaitu keberkahan yang lahir dari upaya memperbaiki ibadah dan mengelola waktu dengan lebih baik.
Penutup
Sebagai kesimpulan, filosofi bulan Rajab yang tercermin melalui simbolisme huruf-hurufnya—yakni riyāḍah al-nafs (latihan jiwa) , jiwār Allāh (kedekatan kepada Allah) , jibārah Allāh (pengampunan dan pertolongan Allah) , serta barakatullāh (keberkahan dari Allah) —menegaskan urgensi bulan ini sebagai momentum transformasi spiritual bagi umat Islam.
Melalui upaya sungguh-sungguh dalam membersihkan noda keburukan jiwa layaknya memoles cermin serta membiasakan amal saleh sejak dini , seorang hamba dapat meraih pengampunan dan pertolongan Allah yang Maha Perkasa (al-Jabbār) dalam menyembuhkan luka batin akibat dosa.
Pada akhirnya, konsistensi dalam meningkatkan kualitas ibadah di bulan Rajab tidak hanya akan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tetapi juga mendatangkan keberkahan hidup yang nyata berupa kelapangan waktu, ketenangan batin, dan kesiapan spiritual yang optimal dalam menyambut bulan suci Ramadan. Wallāhu a’lam.[]
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






