NUIM HIDAYAT

Gara-Gara Bela Mie Babi, Citra Kepolisian ‘Runtuh’

Cara polisi mencari tersangka dengan melakukan penggeledahan ‘biadab‘ terhadap pesantren putri inilah yang diprotes masyarakat luas. Di Tik Tok, Instagram, Facebook polisi dikecam habis-habisan. Ada yang menyebut babi membela babi, polisi bangsat dan lain-lain.

Anehnya pihak polisi dan aparat pemerintah terus membela diri. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menyoroti legalitas lembaga yang digeledah, meminta penertiban rumah tahfiz yang belum berizin, dan menyatakan pemerintah akan mendampingi anak-anak yang terdampak.

“Jangan-jangan, yang kami khawatir nama (ponpes) itu hanya sebatas nama dan ada motif-motif yang lain,” kata Gus Yasin. “RTQ sendiri banyak yang belum berizin. Maka kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama bahwa ini juga harus ditertibkan,” terangnya.

Pernyataan Gus Yasin, langsung mendapat respon yang luas dari netizen. Mereka menyatakan bahwa apakah karena tidak berizin, polisi bisa melakukan cara-cara penggeledahan yang tidak beradab (tidak sesuai prosedur)?

Dalam kasus ini, nampak polisi ‘mengarahkan‘ kasus pembakaran mie Babi ini sebagai kasus terorisme atau dilakukan oleh orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Penggeledahan yang dilakukan di Pesantren Hamalatul Quran itu adalah penggeledahan ‘ala perburuan teroris‘. Padahal kasus ini adalah kasus kriminal biasa. Dimana empat pemuda marah membakar warung babi itu karena pemilik warung mie Babi tidak peduli dengan protes masyarakat yang berbulan-bulan.

Meski dua tersangka yang ditetapkan polisi itu mungkin pernah terlibat dalam kasus terorisme, tapi kasus pembakaran mie Babi ini bukan kasus terorisme. Ini adalah aksi para pemuda yang protes mewakili warga, karena merasa pemilik mie Babi itu tidak tahu diri. Berjualan mie Babi di tengah-tengah desa yang mayoritas Muslim. Bila termasuk kriminalpun hukumannya ringan.

Disinilah yang menyebabkan ribuan netizen di Facebook, Tik Tok, WA grup dan Instagram marah pada polisi khususnya Kapolda. Tokoh-tokoh Islam seperti Prof Din Syamsuddin dan Tifatul Sembiring dengan tegas menyatakan bahwa Kapolda Jawa Tengah harus dicopot.

Beranikah Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mencopot Kapolda Jawa Tengah? Kapolri harus membuktikan slogannya, polisi bersama masyarakat bukan polisi bersama polisi. Wallahu azizun hakim.

Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button