MUDA

Generasi Sekuler, Kesepian dalam Keramaian

Seseorang dapat memiliki prestasi, namun tetap merasa kosong dan kesepian. Hal ini terjadi karena manusia membutuhkan makna hidup, bukan sekadar materi.

Islam membangun makna tersebut melalui akidah. Seorang muslim meyakini bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian, sebagaimana firman Allah Swt.:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 2).

Keyakinan ini membentuk cara pandang yang kokoh dalam menghadapi kegagalan atau kesulitan. Kesulitan dipandang sebagai ujian kehidupan yang harus dihadapi dengan sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal.

Ketika Sukses Menjadi Ukuran Harga Diri

Budaya individualisme dalam masyarakat kapitalistik mendorong seseorang mengejar kesuksesan personal secara berlebihan. Hal ini melahirkan tekanan sosial yang memicu kondisi asosial.

Setiap orang sibuk dengan pencapaian masing-masing, sementara kepedulian terhadap beban orang lain semakin melemah. Kesepian pun berkembang menjadi persoalan sosial.

Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya hubungan sosial yang suportif, penerimaan keluarga, serta akses kepada tenaga profesional. Hal ini membuktikan bahwa manusia membutuhkan lingkungan yang peduli.

Tanggung Jawab Negara dan Masyarakat

Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kehidupan yang sesuai dengan syariat. Negara bukan sekadar regulator yang menyerahkan persoalan masyarakat kepada individu.

Rasulullah saw. menggambarkan hubungan kaum muslimin seperti satu tubuh. Ketika salah satu bagian merasakan sakit, bagian lainnya ikut merasakan penderitaan tersebut.

Keluarga diperkuat, hubungan bertetangga diperhatikan, dan amar makruf nahi mungkar dijalankan agar masyarakat tidak berjalan secara individualistis.

Pendidikan yang Membentuk Kepribadian

Sistem pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang siap memasuki dunia kerja, tetapi harus membentuk kepribadian (syakhsiyah Islamiyah).

Dalam Islam, pendidikan dibangun di atas akidah. Ilmu pengetahuan diarahkan agar manusia semakin mengenal kebesaran Allah Swt. dan menggunakannya untuk kemaslahatan.

Dengan pendidikan ini, keberhasilan seorang pelajar tidak hanya diukur dari nilai atau penghasilan, tetapi juga dari tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan akhirat.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button