OPINI

Mengapa Israel Enggan Tonton Film NAZA?

Oleh: Ori Goldberg, Analis Independen, Doktor Studi Timur Tengah.

Film dokumenter berjudul “NAZA” (akronim bahasa Ibrani untuk collateral damage atau kerusakan ikutan) karya Yuval Avraham dan Rachel Szor belum mendapatkan distributor resmi maupun penayangan publik di Israel. Meski demikian, sejumlah pejabat senior dan petinggi militer Israel telah berjanji akan mengambil tindakan terhadap kedua pembuat film tersebut.

Di tengah gelombang penolakan tersebut, muncul satu sikap yang dominan dari publik yang mengecam film ini: mereka menolak untuk menontonnya.

Penolakan untuk menonton dokumenter tersebut mencerminkan pola penyangkalan yang meluas sejak awal konflik. Ketika bukti kerusakan di Gaza mulai bermunculan, sebagian besar publik Israel menyatakan tidak merasakan empati terhadap para korban. Mereka menutup diri dari kenyataan atas jatuhnya puluhan ribu korban jiwa di Gaza.

Upaya aktivis sayap kiri Israel untuk membuka mata publik melalui tayangan realitas di Gaza mendapatkan penolakan keras. Penolakan ini juga memperlihatkan bagaimana media arus utama di Israel enggan mengangkat metode serangan yang didokumentasikan dalam film NAZA.

Para kritikus dan jurnalis di Israel menuding pembuat film tersebut hanya mencari perhatian dan keuntungan materi. Mereka bahkan menuduh pembuat film bekerja untuk kepentingan pihak asing demi menjatuhkan citra Israel.

Bagi sebagian warga Israel, menolak menonton NAZA dianggap sebagai bentuk sikap politik. Mereka beralasan bahwa kritik terhadap tindakan militer tidak boleh dipublikasikan di luar negeri karena dapat memperkuat tuduhan internasional terhadap Israel.

Ketidakmampuan lembaga hukum dan militer dalam menyelidiki dugaan kejahatan perang tidak menjadi perhatian utama bagi publik yang menolak film ini. Setiap tuduhan internasional cenderung dianggap sebagai bagian dari sentimen anti-Israel yang tidak perlu ditanggapi melalui diskusi terbuka.

Kini, publik memilih untuk mengabaikan isi film tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk penyesatan informasi. Keberhasilan film NAZA meraih penghargaan khusus juri di Festival Film Venesia justru ditanggapi dengan skeptisimis oleh publik domestik.

Sikap menolak realitas ini menjadi mekanisme untuk menghindari tanggung jawab atas dampak perang. Dengan menutup mata terhadap kenyataan yang ada, publik berusaha mempertahankan narasi tunggal yang mereka yakini.[]

Sumber: Aljazeera.com

Back to top button