GERAKAN ISLAM

Hadapi ‘PD III’, Dewan Dakwah dan WADAH Malaysia Petakan Strategi Pembinaan Umat

Perang masa kini tidak lagi mengandalkan letupan senjata fisik semata, melainkan gempuran ghazwul fikri (perang pemikiran) yang menyasar pemikiran umat. Pertarungan ideologi ini dirancang secara masif untuk merusak cara berpikir dan mengikis keimanan umat Islam.

Dalam situasi yang mengancam ini, institusi dakwah dan pendidikan Islam memegang peran benteng terakhir. Lembaga dakwah wajib membekali umat dengan literasi syariah, ketahanan pemikiran, serta kecakapan dalam merespons arus pemikiran modern.

Menggalang Kekuatan Serumpun dan Mengundang Pertolongan Allah Swt.

Untuk membendung ancaman sistematis tersebut, Ahmad Azam menekankan mendesaknya konsolidasi antara Indonesia dan Malaysia sebagai pilar utama ikatan serumpun.

Kedekatan sejarah, budaya, dan akidah umat Islam di kedua negara merupakan aset strategis yang belum dimaksimalkan secara optimal. Sinergi dua kekuatan ini menjadi syarat mutlak untuk menghadapi hegemoni pemikiran Barat maupun globalisme yang merusak.

Di akhir pesannya, ia mengingatkan para dai untuk senantiasa bertobat dan memantaskan diri agar memicu turunnya pertolongan Allah Swt. dalam medan perjuangan.

Ia mengutip ibrah penting dari kemenangan sejarah pada Perang Badar. “Meskipun jumlah kaum Muslimin ketika itu sedikit, pertolongan Allah Swt. datang setelah berbagai unsur yang mengundang pertolongan tersebut terpenuhi,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi koreksi mendalam bagi gerakan Islam saat ini agar tidak terjebak pada angka dan popularitas semata. Perjuangan dakwah bukan sekadar menumpuk kekuatan material, melainkan sejauh mana para pejuang dakwah mampu menyucikan niat, memperkuat ukhuwah, dan memenuhi kriteria pertolongan ilahi.

Pertemuan strategis tersebut disambut hangat oleh Sekretaris Umum Dewan Dakwah Fathurahman Mahfudz, Bendahara Umum Ade Salamun, serta Wakil Ketua Umum Ahmad Misbahul Anam beserta jajaran pengurus pusat lainnya.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button