Hadir di Masjid Ibn Khaldun, Dai asal Jepang Kyoichiro Sugimoto Beri Kisah Dakwah Inspiratif
Ia lalu menggambarkan realitas yang dihadapi anak-anak Muslim di sekolah Jepang. “Bayangkan satu sekolah memiliki 600 murid, tetapi hanya satu yang Muslim. Bagaimana menjaga iman mereka? Di mana mereka shalat? Bagaimana mendapatkan makanan halal? Bagaimana menjalankan Ramadhan? Itu tantangan yang nyata,” jelasnya.
Karena itulah, menurut Sugimoto, masjid di Jepang bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan benteng identitas generasi Muslim.
Dalam paparannya, Sugimoto mengungkapkan bahwa jumlah Muslim di Jepang kini mencapai sekitar 420.000 jiwa, lebih dari separuhnya merupakan Muslim Indonesia. Angka itu melonjak drastis dibanding sekitar 30.000 orang tiga dekade lalu.
Pertumbuhan komunitas tersebut, katanya, belum diimbangi dengan ketersediaan masjid. Akibatnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang terpaksa menunaikan shalat di taman maupun area parkir karena belum memiliki masjid atau mushala yang memadai.
“Orang sering bertanya, Jepang kan negara kaya, mengapa masih perlu bantuan membangun masjid? Jawabannya karena dakwah selalu membutuhkan tempat untuk tumbuh,” ujarnya.
Baginya, masjid memiliki tiga fungsi besar: menjaga iman keluarga Muslim, menjadi pusat dakwah bagi masyarakat Jepang, serta menjadi rumah pembinaan bagi para mualaf.
Salah satu bagian paling menyentuh dari ceramahnya adalah ketika ia menceritakan perjalanan mendampingi para mualaf Jepang. Selama aktif berdakwah, Sugimoto mengaku telah menyaksikan sekitar 280 warga Jepang mengucapkan syahadat.
Namun menurutnya, syahadat hanyalah garis awal. “Seorang Muslim baru seperti bayi yang baru lahir. Mereka membutuhkan dukungan spiritual, psikologis, pendidikan, intelektual, finansial, dan emosional. Karena itu kita membutuhkan masjid sebagai pusat pembinaan agar mereka tidak sendirian,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar mengajak orang masuk Islam, tetapi memastikan mereka mampu istiqamah menjalani kehidupan sebagai Muslim.
Kedatangan Sugimoto ke Indonesia kali ini bukan sekadar berceramah. Ia membawa misi mendukung pembangunan Masjid Al-Muttaqin di Kota Matsudo, Prefektur Chiba.
Meski masjid tersebut bukan berada di bawah organisasi yang dipimpinnya, ia merasa terpanggil untuk membantu karena meyakini setiap amal kebaikan merupakan investasi bagi akhirat.
Ia membayangkan suatu hari nanti kawasan sekitar masjid itu berkembang menjadi komunitas Muslim yang lengkap dengan pusat pendidikan, toko halal, dan kehidupan Islami.
“Kami ingin menghadirkan sebuah Madinah kecil di Jepang. Bukankah Rasulullah ketika hijrah pertama kali membangun masjid? Dari masjid itulah peradaban tumbuh,” ujarnya.






