Ini Soal Gaza, Bodoh!
Oleh: Jason Jones, Aktivis Hak Asasi Manusia dan Penulis.
Kemarahan publik Amerika Serikat atas tragedi di Gaza baru saja menentukan hasil pemilu sela pada Selasa (03/11/2026).
Partai Demokrat kini berhasil merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat Amerika Serikat. Mereka mengambil alih kepemimpinan dari Partai Republik yang selama ini defensif dan bertindak menuruti kemauan Israel beserta sekutunya di kalangan pengamat kebijakan luar negeri Amerika, serta kerap menyudutkan pihak-pihak yang menentang kebijakan tidak populer tersebut.
Sebagai sampel dari pertarungan politik yang paling sengit dan disorot secara nasional, apa yang terjadi di Negara Bagian Michigan memperlihatkan kekalahan kandidat yang mengabaikan kemarahan publik oleh kandidat yang bersimpati dan menanggapi secara nyata isu tersebut.
Kandidat dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik, Mike Rogers. Kemenangan ini menunjukkan betapa teguhnya komitmen para pemilih untuk membebaskan diri dari pengaruh para apologet tragedi Gaza.
Sebelum pemungutan suara Senat AS di Michigan, El-Sayed menjadi target kekalahan melalui pengeluaran dana politik rekor tertinggi oleh American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Kelompok lobi pro-Israel tersebut bertindak sebagai perpanjangan tangan rezim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, bahkan saat kampanye militer pemerintahannya di Gaza, Iran, Lebanon, dan Tepi Barat memicu kecaman internasional yang semakin memuncak.
AIPAC dan afiliasinya mengucurkan hampir 30 juta dolar AS untuk mengalahkan El-Sayed dalam pemilu internal (primary) Partai Demokrat dengan mendukung Haley Stevens yang mengklaim diri sebagai “Demokrat Zionis”. Investasi tersebut merupakan yang terbesar dalam satu pemilihan.
Super PAC milik AIPAC—organisasi di AS yang diizinkan mengumpulkan dana tanpa batas untuk iklan politik—tetap mengucurkan dana untuk melawan El-Sayed setelah pemilu internal, yang pada akhirnya menguntungkan Rogers. Bahkan, Stevens yang secara eksplisit menyoroti pesan kampanye El-Sayed menentang aksi militer Israel serta pendanaannya dari pembayar pajak AS, membingungkan partainya sendiri dengan mendukung rival dari Partai Republik hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara.
Wakil Presiden JD Vance mengakui pada pagi hari setelah pemilu bahwa koalisi pemilih yang mengantarkan Presiden Donald Trump dan dirinya ke tampuk kekuasaan pada 2024 baru saja menentukan hasil pemilu 2026. Mengutip para penasihat utamanya, Vance menyebutkan bahwa para pemilih didorong oleh empat prioritas utama:
- Menghentikan perang terhadap Iran.
- Tingginya biaya hidup dan inflasi.
- Mengutamakan kepentingan Amerika (America First).
- Mengubah hubungan AS dengan Israel.
“Pemilih kami menggunakan hak suaranya,” kata Wakil Presiden. “Dan empat alasan di atas adalah penyebab mengapa banyak dari mereka akhirnya memilih Partai Demokrat.”
Analisis Vance tersebut didukung oleh figur lain. Donald Trump Jr., putra presiden, secara terbuka membenarkan pengakuan Vance atas kegagalan Partai Republik. Beberapa jam kemudian, Presiden Trump menyebut analisis Vance “bagus”, meskipun ia tetap bertahan pada keputusan perang yang berdampak buruk tersebut.
Hal itu terjadi karena sulit untuk mengaburkan atau menghapus kesan yang ditinggalkan oleh dinamika pemilu tahun ini. Terlihat adanya faksi yang tertanam dalam kelas politik Amerika, yang komitmennya pada prinsip “membela Israel secara buta” bertentangan secara langsung, tidak demokratis, dan menentang konsensus rakyat Amerika yang terus berkembang.





