Hadiri Silatnas XIII Pesantren Elkisi, Penasihat Grand Syekh Al Azhar Sampaikan Pesan Silaturahmi dan Perdamaian
Prof. Nahla juga menyinggung besarnya jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Dengan nada bercanda, ia mengatakan bahwa banyaknya mahasiswa Indonesia di Al-Azhar membuat seolah-olah Indonesia sedang “menjajah” Al-Azhar. Ucapan tersebut disambut tawa para hadirin.
Dakwah Membutuhkan Ketangguhan
Pada kesempatan yang sama, dai senior Ustaz Daeng Romli turut memberikan sambutan untuk membagikan pengalamannya.
Ia pernah bertugas bertahun-tahun berdakwah di Timor Timur dan kini menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, medan dakwah di kawasan pedalaman tidaklah mudah dan menuntut dedikasi tinggi. Para dai harus memiliki ketangguhan mental, kesabaran, serta kesiapan menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.
“Dakwah di pedalaman memerlukan ketangguhan yang kuat. Seorang dai harus siap menghadapi berbagai masalah dan tantangan,” ujarnya.
Menjadi Dai Adalah Pilihan Allah
Di hadapan para dai muda Dewan Dakwah yang hadir, Ustaz Daeng memberikan motivasi agar mereka bangga menjalankan amanah dakwah.
“Allah telah memilih Anda menjadi seorang dai. Tidak semua orang memperoleh pilihan tersebut,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh dai untuk terus menjaga keikhlasan dalam berjuang di jalan Allah Swt.
Mereka harus meyakini bahwa pertolongan Allah Swt. akan senantiasa menyertai setiap langkah dakwah yang dilakukan dengan niat yang benar.
Silatnas XIII Pesantren Elkisi tidak hanya menjadi ajang mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kerja sama internasional dengan Al-Azhar.
Pesan-pesan yang disampaikan para tokoh tersebut menegaskan bahwa ilmu, persaudaraan, dan dakwah merupakan tiga pilar penting dalam membangun peradaban umat.[]
Nuim Hidayat






