Hamas: Penutupan Al-Aqsha Eskalasi Berbahaya dan Serangan terhadap Kebebasan Ibadah
Ramallah (SI Online) – Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras keputusan otoritas Israel menutup Masjid Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan dan melarang jamaah melaksanakan salat Isya serta Tarawih.
Hamas menyebut langkah tersebut sebagai “serangan serius dan terang-terangan terhadap kesucian tempat suci” sekaligus “pelanggaran langsung terhadap kebebasan beribadah umat Muslim.”
Dilansir Pusat Informasi Palestina, Senin (2/3) Hamas menilai penutupan itu sebagai bagian dari kebijakan sistematis yang bertujuan memaksakan kendali penuh atas kompleks Al-Aqsa serta menciptakan realitas baru di lapangan.
“Pendudukan memanfaatkan dalih keadaan darurat untuk menerapkan rencana Yahudisasi di Masjid Al-Aqsa dan di seluruh wilayah Palestina,” demikian bunyi pernyataan tersebut, merujuk pada kebijakan yang dinilai bertujuan mengubah status quo historis di Yerusalem Timur.
Jamaah Dipaksa Keluar, Ketegangan Meningkat
Di lapangan, otoritas Israel dilaporkan menutup penuh kompleks Al-Aqsa sejak Sabtu dan memaksa jamaah meninggalkan area masjid dengan alasan keadaan darurat menyusul serangan Israel terhadap Iran.
Sejumlah saksi mata menggambarkan suasana haru dan tegang ketika jamaah yang telah bersiap menunaikan salat malam Ramadan diminta meninggalkan area. “Kami datang untuk berdoa di bulan suci, tetapi gerbang ditutup. Ini menyakitkan,” ujar seorang jamaah lanjut usia yang datang dari Tepi Barat.
Bagi banyak keluarga Palestina, Ramadan di Al-Aqsa bukan sekadar ibadah, melainkan tradisi turun-temurun yang mempererat hubungan spiritual dan sosial. Penutupan tersebut memicu kekhawatiran luas bahwa momentum ketegangan regional dimanfaatkan untuk mengubah pengaturan historis yang selama ini mengatur akses dan pengelolaan situs suci tersebut.
Peringatan atas Dampak Regional
Hamas memperingatkan bahwa kebijakan yang semakin meningkat ini dapat membuka jalan bagi pelanggaran lebih lanjut terhadap situs-situs suci Islam. Gerakan tersebut menegaskan bahwa upaya untuk “mengosongkan masjid dari para jamaah” tidak akan berhasil.
Perkembangan ini terjadi di tengah situasi regional yang sangat sensitif, ketika dimensi militer, politik, dan agama saling berkelindan akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Banyak pengamat menilai kondisi ini berpotensi memperburuk ketegangan lintas kawasan.
Prediksi Perang Berkepanjangan
Dalam analisis terpisah yang disiarkan oleh Al Jazeera, peneliti senior Institut Studi Al Jazeera, Dr. Liqaa Makki, memprediksi bahwa serangan Amerika-Israel terhadap Iran akan terus berlanjut tanpa negosiasi dalam waktu dekat.
Menurut Makki, target operasi tersebut tidak hanya Iran, tetapi juga negara-negara Arab, Pakistan, dan Turki. Ia menilai bahwa Israel menjadi satu-satunya pihak yang diuntungkan dari situasi ini.
Makki menjelaskan bahwa Washington dan Tel Aviv kemungkinan tidak akan menghentikan serangan sampai menemukan kondisi yang dianggap tepat untuk fase perang berikutnya, termasuk potensi memicu pemberontakan bersenjata di wilayah pinggiran Iran dan menciptakan kekacauan yang menguntungkan Israel.
Ia menyoroti kompleksitas demografis Iran sebagai negara dengan pusat dominan Persia dan berbagai kelompok etnis di wilayah pinggiran. Makki menyebut kelompok Baloch—yang tersebar di Balochistan (wilayah yang terbagi antara Pakistan, Iran, dan Afghanistan)—serta komunitas Kurdi dan Azeri sebagai kelompok yang berpotensi terdampak jika konflik meluas.
Menurutnya, kekacauan di Iran dapat memicu gelombang pengungsian besar-besaran ke negara-negara tetangga, yang telah menyatakan keprihatinan mendalam atas pecahnya perang dan mendorong diplomasi sebagai prioritas.
Kecaman atas Pelanggaran Hukum Internasional
Penutupan tempat ibadah di bulan suci dan serangan lintas batas terhadap negara berdaulat menuai kritik luas dari berbagai kalangan internasional. Sejumlah organisasi hak asasi manusia menilai pembatasan akses ibadah di situs suci melanggar prinsip kebebasan beragama yang dijamin hukum internasional.
Pengamat hukum internasional juga menyoroti bahwa perubahan sepihak terhadap status quo di Yerusalem Timur berpotensi melanggar resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menegaskan pentingnya menjaga karakter dan pengaturan historis situs-situs suci.
Di tengah kekhawatiran tersebut, warga sipil kembali menjadi pihak paling rentan. Di Yerusalem, keluarga-keluarga Palestina menghadapi pembatasan akses ibadah. Di Iran dan kawasan Teluk, warga hidup dalam kecemasan atas kemungkinan eskalasi militer lanjutan.
Operasi “Raungan Singa” dan Respons Iran
Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi meluncurkan serangan skala besar terhadap Iran dengan nama sandi “Operasi Raungan Singa.” Sebagai respons, Iran bersumpah memberikan “tanggapan keras terhadap agresi” dan meluncurkan serangan rudal ke arah Israel serta target yang diklaim sebagai pangkalan Amerika di wilayah Teluk.
Dengan meningkatnya eskalasi, situasi di kawasan kian rapuh. Penutupan Al-Aqsa selama Ramadan—yang bagi jutaan Muslim merupakan momen spiritual paling penting dalam setahun—kini menjadi simbol bagaimana konflik geopolitik berisiko merambah ruang-ruang sakral dan memperdalam luka kemanusiaan.
Di tengah seruan diplomasi dari berbagai negara, pertanyaan mendesak pun mengemuka: apakah hukum internasional dan nilai-nilai kebebasan beribadah masih memiliki ruang untuk ditegakkan di tengah pusaran konflik yang terus meluas.
sumber: infopalestina






