Komite Darurat Gaza Dibubarkan, Hamas Desak Percepat Peta Jalan Kesepakatan Kairo
Jakarta (Suaraislam.id)- Gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas, pada Senin (6/7) lalu mengumumkan pembubaran Komite Darurat Pemerintah di Gaza. Kelompok tersebut mengalihkan tanggung jawab administrasi Jalur Gaza kepada Komite Nasional.
Kepala Komite Darurat Pemerintah, Mohammed al-Farra, telah secara resmi mengajukan pengunduran dirinya. Hal itu disampaikan oleh Ismail Thawabta, direktur jenderal kantor media yang dikelola Hamas di Gaza, dalam konferensi pers di Deir al-Balah, Gaza tengah.
Hanya staf teknis dan profesional yang akan tetap menduduki jabatannya di dalam sistem tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kekosongan administratif dan teknis sesuai dengan peta jalan yang disepakati oleh faksi-faksi Palestina di Kairo, ujar Thawabta.
Langkah tersebut diambil untuk meringankan penderitaan warga akibat perang yang masih berlangsung. Selain itu, kebijakan ini dipicu oleh tertundanya rekonstruksi, pengepungan yang terus berlanjut, penutupan titik perlintasan, dan keengganan pasukan Israel untuk menarik diri, ujarnya.
Thawabta mendesak seluruh pihak terkait untuk mempercepat langkah-langkah tersebut. Tujuannya agar Komite Nasional untuk Administrasi Gaza dapat segera memasuki Jalur Gaza dan melaksanakan tugas-tugas administratifnya.
Dalam sebuah pernyataan terpisah, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menuturkan bahwa langkah ini bertujuan untuk menghilangkan dalih bagi campur tangan Israel. Ia juga menegaskan kembali komitmen kelompoknya untuk menyerahkan seluruh tanggung jawab pemerintahan di Gaza.
Pada pertengahan Juni, faksi-faksi Palestina telah bertemu dengan para mediator di Kairo. Mereka menyerahkan tanggapan terkait peta jalan untuk kesepakatan gencatan senjata fase kedua di Gaza.
Peta jalan yang diajukan oleh “Dewan Perdamaian” pimpinan Amerika Serikat tersebut menguraikan mekanisme terkait masa depan Gaza. Poin-poinnya antara lain mencakup rekonstruksi, pelucutan senjata, penarikan pasukan Israel, dan pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional.
Pada Senin yang sama, sebanyak lima warga Palestina tewas dan sedikitnya 18 lainnya terluka dalam sejumlah serangan terpisah Israel. Serangan zionis tersebut menargetkan para pengungsi dan area permukiman di Gaza selatan serta Gaza City, ungkap Mahmoud Basal, juru bicara Badan Pertahanan Sipil di Gaza.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan langsung dari pihak Israel terkait insiden yang dilaporkan tersebut.
Serangan-serangan Israel itu tetap terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang mulai diterapkan pada 10 Oktober 2025. Hamas dan Israel hingga kini terus saling melontarkan tuduhan terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Senin menyampaikan bahwa jumlah korban tewas sejak gencatan senjata diberlakukan telah mencapai 1.072 jiwa dengan 3.463 orang terluka. Kondisi ini menjadikan total korban tewas di Gaza sejak konflik pecah pada Oktober 2023 mencapai 73.098 jiwa dan total korban luka mencapai 173.571 orang. []
Sumber: Xinhua






