OASE

Hamba yang Merasa Cukup Bersama Allah dan Dicukupi Allah

  1. Menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, “Tawakal adalah sebab yang paling kuat bagi seorang hamba untuk menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuannya seperti bahaya, permusuhan. Orang yang sudah dicukupi dan dikindung Allah maka tidak ada bahaya yang mengancamnya kecuali apa yang bahaya yang biasa.”
  2. Sementara, menurut Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar jilid 10 halaman 7467, “Dia yang bertawakal kepada Allah dengan menyerah sebulat hati, yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakannya; pendirian yang seperti itu membuat dia tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah. Pengalaman manusia berkali-kali, hidup adalah pergantian antara susah dengan senang. Karena keyakinan yang demian teguh, maka pintu yang tertutup bagi orang lain maka bagi orang yang bertakwa menjadi terbuka. Perbendaharaan orang yang betawakal tidak akan dibiarkan Tuhan menjadi kering. Ketika dekat akan kering, datang saja bantuan baru yang tidak disangka-sangka.”

Inilah pentingnya bertawakal kepada Allah. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla terhadap apa pun yang akan terjadi, setelah berusaha sepenuh daya; dan merasa cukup bersama dengan apa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Sikap ini akan membuat seseorang menyadari bahwa hidup sejatinya adalah permainan, pergantian antara susah dan senang yang harus disikapi dengan tawakal.

Bukan pada ikhtiar, fokus seorang muslim mengupayakan kebutuhan yang ada dalam kehidupan. Karena, sejatinya kemampuan yang digunakan pun adalah perbendaharaan Allah yang dipinjamkan kepadanya. Namun, tambatan terkuatnya adalah bagaimana rida terhadap apa pun yang Allah berikan kepadanya. Baik atau burukkah, kurang atau sesuai dengan ekspektasikah, tepat waktu atau harus bersabarkah; semuanya adalah hal terbaik yang Allah berikan dan kita merasa cukup dengan itu semua.

“Ya Allah, sesungguhnya hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mulah aku beriman, hanyalah kepada-Mu-lah aku bertawakal. Hanya kepada-Mu aku kembali, hanya karena-Mu, aku memusuhi musuh-musuhmu. Ya, Allah sesungguhnya aku hanya berlindung kepada keagungan-Mu.” Laa haula walaa quwwata ilaabillahil aliyul adziim. []

KH Bachtiar Nasir, Pimpinan AQL Islamic Center.

Laman sebelumnya 1 2 3

Artikel Terkait

Back to top button