NUIM HIDAYAT

Hanya Pemimpin Teladan yang Akan Membawa Indonesia Adil Makmur

Para ahli kepemimpinan seperti John Kotter menyatakan bahwa pemimpin yang baik tidak hanya mengatur, tetapi juga menggerakkan — yakni memberi semangat, arah, dan harapan. Ketika seorang pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal moral dan karakter, disiplin dan loyalitas bawahannya pun cenderung meningkat.

Bila dibandingkan dengan Joko Widodo dan Prabowo Subianto, keteladan Anies jauh lebih tinggi. Jokowi dikenal sebagai pemimpin pembohong, suka menjual asset negara ke luar negeri, politik dinasti dan melakukan deislamisasi.

Sedangkan Prabowo tidak bisa menjadi teladan dalam kehidupan keluarga, ibadah dan kemampuan manajemennya. Prabowo dianggap terlalu materialistik dan kurang meyakini hal-hal yang sifatnya spiritual.

Para ahli manajemen seperti Edgar Schein, dalam studinya tentang budaya organisasi, menunjukkan bahwa pemimpin puncak membentuk nilai-nilai dasar yang kemudian menjadi norma dalam suatu sistem sosial. Artinya, bila seorang pemimpin konsisten menunjukkan integritas dan nilai moral tinggi, para pemimpin di bawahnya — dari birokrat sampai pemimpin komunitas — akan jauh lebih mungkin meniru perilaku ini.

Harapan terbesar bukan sekadar pada satu individu, tetapi pada terbentuknya budaya kepemimpinan yang berakar pada keteladanan, bukan hanya sekadar strategi politik atau manuver administratif. Ketika etika, profesionalisme, dan spiritualitas menyatu dalam pemimpin nasional — di situlah fondasi sebuah bangsa yang kuat, harmonis, dan berkeadilan benar-benar terwujud.

Imam Ghazali menyatakan, “Rusaknya rakyat disebabkan rusaknya penguasa, dan rusaknya penguasa disebabkan rusaknya ulama. Rusaknya ulama karena cinta dunia dan jabatan.”

Bagi Imam Ghazali, pemimpin bukan hanya pengelola negara, tetapi cermin moral masyarakat. Ketika pemimpin kehilangan akhlak, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah, maka aparat di bawahnya akan meniru: korupsi dianggap wajar, kebohongan menjadi kebiasaan, dan kezaliman dilegalkan oleh sistem. Pandangan ini sangat relevan dengan teori modern role modeling dalam psikologi organisasi: perilaku elite selalu mengalir ke bawah.

Dalam “Muqaddimah”, Ibnu Khaldun mengemukakan teori siklus peradaban. Ia menyatakan bahwa kemunduran negara bukan pertama-tama disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi oleh kerusakan moral elite penguasa. Ia menegaskan bahwa ketika pemimpin kehilangan asabiyyah (solidaritas moral dan keteladanan), maka aparat berubah menjadi pemburu rente, hukum menjadi alat kekuasaan, dan rakyat kehilangan kepercayaan.

Tokoh intelektual Islam Indonesia, Mohammad Natsir, menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah uswah hasanah (teladan yang baik). Dalam berbagai pidato dan tulisannya, Natsir menolak konsep pemimpin yang hanya kuat secara politik tetapi kosong secara moral. Menurut Natsir, “Negara tidak akan tegak dengan undang-undang saja, jika orang yang menjalankannya tidak bermoral.”

Buya Hamka secara tegas menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memberi contoh adalah sumber kerusakan sosial. Dalam “Tafsir Al-Azhar”, Hamka menulis bahwa rakyat akan lebih mudah mengikuti perbuatan pemimpin daripada perintahnya. Hamka menyebut, “Akhlak pemimpin adalah khutbah yang tidak pernah berhenti.”

Baik dalam teori manajemen modern, psikologi kepemimpinan, maupun pemikiran intelektual Islam, satu kesimpulan mengemuka dengan jelas: pemimpin yang tidak menjadi teladan, cepat atau lambat akan melahirkan ketidakadilan.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan program, dan tidak kekurangan kekuasaan. Yang sering langka adalah pemimpin yang bisa diteladani — dalam pikiran, perilaku, dan nilai hidupnya.

Bangsa besar membutuhkan teladan besar. Dan teladan itu harus dimulai dari pemimpin tertingginya. Keteladan pemimpin ini akan menular pada para pemimpin di bawahnya. Dari sinilah impian Indonesia adil dan makmur dapat diwujudkan. Wallahu alimun hakim.[]

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button