Kecam Keras Program Israel-Indonesia, Munarman: Mereka Mau Kendalikan Negeri Ini Sesuai Kepentingan Zionis
Jakarta (Suaraislam.id) – Aktivis hukum Munarman mengecam keras dibukanya program Israel-Indonesia Futures 2027 yang menyasar profesional dan calon pemimpin Indonesia. Menurutnya, program tersebut bukan sekadar pelatihan kepemimpinan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun jejaring pengaruh yang harus diwaspadai.
Pernyataan itu disampaikan Munarman pada Rabu (26/8/2026) saat mengulas dibukanya pendaftaran program yang diselenggarakan Israel-Asia Center, organisasi nirlaba berbasis di Israel.
“Israel berani membuka rekrutmen untuk pelatihan kepemimpinan, bahkan pesertanya diminta membayar. Mereka sudah bersiap dengan kader-kader yang dilatih secara berjenjang dan memiliki visi jangka panjang,” ujar Munarman.
Ia menilai masyarakat Indonesia tidak boleh memandang program tersebut sebagai kegiatan biasa. Menurutnya, pembinaan calon pemimpin melalui jejaring internasional dapat menjadi instrumen pembentukan pengaruh ideologis dan politik apabila tidak disikapi secara kritis.
Sebagaimana diumumkan Israel-Asia Center, Israel-Indonesia Futures 2027 akan membuka pendaftaran pada September 2026. Program itu ditujukan bagi profesional tingkat menengah hingga senior dari Indonesia dan Israel yang bergerak di bidang bisnis, teknologi, pendidikan, kebijakan publik, media, budaya, investasi, hingga dampak sosial.
Penyelenggara menyatakan tujuan program adalah membangun hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Israel, meski kedua negara hingga kini belum memiliki hubungan diplomatik resmi.
Bagi Munarman, sasaran peserta yang berasal dari kalangan pemimpin muda dan profesional justru menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap proses kaderisasi yang berlangsung secara sistematis.
“Mereka sudah bersiap dengan kader-kader yang dilatih secara berjenjang dan visi jangka panjang, untuk mengendalikan negara ini sesuai kepentingan Zionis Israel,” jelasnya.
Penolakan program Israel-Indonesia Futures 2027 sendiri muncul setelah pengumuman resmi Israel-Asia Center yang membuka kesempatan bagi warga Indonesia untuk mengikuti jejaring dan pengembangan kepemimpinan lintas negara, sehingga memicu kecaman dari sejumlah kalangan di Indonesia. []






