RESONANSI

Harmoni dan Refleksi: Hari Santri dan Tantangan Modernitas

Peringatan Hari Santri harus menjadi pemantik untuk evaluasi diri. Apakah infrastruktur dan sistem keamanan pesantren telah memenuhi standar yang memadai?

Apakah kurikulum telah memampukan santri untuk berkompetisi secara global di bidang sains dan teknologi, tanpa kehilangan kedalaman spiritual dan akhlak mereka?

Kritik paling tajam yang tengah viral saat ini adalah tentang adanya potensi praktik feodalisme di lingkungan pesantren. Dalam kacamata sosiologi dan filsafat, feodalisme adalah sistem yang didasarkan pada kekuasaan mutlak, hak waris keturunan, dan minimnya ruang kritik.

Dalam konteks pesantren, anggapan ini muncul dari pola hierarki yang menempatkan Kiai dan keluarga sebagai pusat otoritas tertinggi. Penghormatan (adab) yang tulus dari santri terkadang disalahartikan atau disalahgunakan sebagai bentuk kepatuhan buta (sam’an wa tha’atan).

Adab dan Feodalisme sangat penting untuk dibedakan. Adab kepada guru adalah tradisi keilmuan Islam yang mengajarkan kerendahan hati sebagai kunci keberkahan ilmu. Sebaliknya, feodalisme adalah praktik kekuasaan yang mengeksploitasi.

Fenomena feodalisme muncul ketika otoritas Kiai, yang seharusnya berbasis pada kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak, disempitkan menjadi hak istimewa keturunan atau kekayaan materi, yang kemudian menutup ruang bagi kritik yang sehat. Jika ini terjadi, maka nilai inti pesantren yang menjunjung tinggi ilmu dan kearifan telah dikhianati.

Oleh karena itu, momentum Hari Santri harus menjadi penegasan bahwa pesantren adalah sistem pendidikan berbasis ilmu dan adab, bukan feodalisme berbasis keturunan dan kekuasaan absolut.

Kritik konstruktif terhadap isu feodalisme ini harus disambut terbuka oleh seluruh elemen pesantren. Tujuannya bukan untuk merusak, melainkan untuk menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mencetak generasi yang teguh dalam tradisi keislaman, cemerlang dalam ilmu, dan berkemajuan dalam peradaban bangsa di era globalisasi. Selamat Hari Santri Nasional! []

*Lilik Qonitah, S.Pd.I, Guru PAI SDN Karangasem 01 Kec. Batang Kab. Batang, Mahasiswa S2 UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button