Hikmah Puasa: Membentuk Kesadaran Sosial
- Puasa mewujudkan makna persamaan antara orang kaya dan miskin, antara kalangan terhormat dan rakyat biasa, dalam menunaikan satu kewajiban yang sama. Ini termasuk manfaat sosial dari puasa.
- Puasa menumbuhkan perasaan halus, belas kasih, dan rahmat yang mendorong untuk memberi dan berbagi. Ketika ia merasakan lapar, ia teringat kepada orang-orang miskin yang tidak memiliki makanan, sehingga puasa mendorongnya untuk membantu mereka.
Berdasarkan Surah Al-Ḥujurāt ayat 13, Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), lalu menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit. Selain itu, dalam tinjauan sosiologis, manusia ada yang kaya dan ada yang miskin. Meskipun demikian, selain berasal dari satu laki-laki (Adam) dan satu perempuan (Hawa), satu hal yang menyamakan kedudukan kita di hadapan Allah adalah ibadah.
Ibadah ritual yang diperintahkan oleh Allah, seperti salat fardu dan puasa Ramadan, wajib dilakukan oleh semua kalangan masyarakat, baik yang kaya maupun yang miskin, baik ras Mongoloid, Negroid, Kaukasoid, maupun Australoid.
Di bulan Ramadan, kita semua berpuasa. Kita sama-sama merasakan lapar dan dahaga pada siang hari. Mereka yang hidup berkekurangan dan terbiasa merasakan lapar serta dahaga mungkin tidak terlalu berat menjalani kewajiban ini.
Adapun mereka yang hidup berkecukupan atau bahkan berlebih, mungkin pada awalnya terasa berat untuk melaksanakannya. Namun kewajiban tetaplah kewajiban; siapa yang tidak melaksanakannya berdosa dan terancam siksa dari Allah Swt. Hal ini mendorongnya untuk memaksakan diri berpuasa hari demi hari, minggu demi minggu. Hingga pada suatu saat timbul dalam hatinya, “Jadi, demikianlah yang dirasakan oleh mereka yang hidup berkekurangan; rasa lapar dan haus.” Akhirnya tumbuh rasa iba dan belas kasih dalam hati orang yang berkecukupan itu, yang mendorongnya untuk menginfakkan sebagian hartanya kepada mereka yang membutuhkan di sekitarnya.
Inilah salah satu bentuk kepedulian sosial melalui puasa. Itulah sebabnya banyak disebutkan dalam berbagai hadis anjuran dan keutamaan puasa, terlebih di bulan Ramadan yang penuh keberkahan ini, di antaranya memperbanyak sedekah, khususnya kepada orang yang akan berbuka puasa.
Demikianlah hikmah puasa dalam membentuk kesadaran sosial. Puasa bukan terbatas pada definisi “formal” yang diberikan oleh para fukaha, namun ia dilaksanakan untuk menggapai tujuannya sebagai hikmah puasa, yakni ketakwaan; dan ketakwaan yang sejati tidak berhenti pada hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, melainkan juga terwujud dalam hubungan horizontal antarsesama manusia.
Ketika puasa melatih kita menahan diri dari yang halal demi taat kepada Allah, sesungguhnya ia juga sedang mendidik hati agar peka terhadap penderitaan orang lain, menumbuhkan empati, memperkuat solidaritas, dan mengikis kesenjangan sosial melalui infak dan sedekah.
Maka, Ramadan seharusnya tidak hanya menghadirkan pribadi-pribadi yang rajin beribadah secara individual, tetapi juga melahirkan masyarakat yang lebih peduli, adil, dan penuh kasih sayang. Wallāhu a’lam.
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






