Hikmah Puasa: Membentuk Kesadaran Sosial
Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah, ayat 151:
كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu), Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”
Dalam ayat ini, Allah Swt. menyebutkan sekian banyak kenikmatan yang diberikan kepada kita. Di antara nikmat tersebut adalah diutusnya Rasul, Nabi Muhammad Saw., kepada kita yang mengajarkan kitab suci Al-Qur’an dan hikmah.
Hikmah lazim diartikan sebagai kebijaksanaan. Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai pengetahuan tentang nilai paling utama dari segala sesuatu, baik dalam ranah pemikiran maupun tindakan. Hikmah juga dipahami sebagai perpaduan antara ilmu yang membimbing amal dan amal yang berlandaskan ilmu, sehingga keduanya saling menguatkan.
Secara ringkas, kita dapat mengatakan bahwa hikmah merupakan tingkatan tertinggi dalam hierarki pengetahuan manusia, karena tidak hanya berhenti pada pemahaman rasional, tetapi juga menuntun pada sikap yang bijaksana dan bertanggung jawab.
Allah Swt. memiliki asmaulhusna Al-Ḥakīm, yang biasa diartikan sebagai Yang Maha Bijaksana. Dengan demikian, Al-Qur’an sebagai firman-Nya tidak pernah sepi dari hikmah. Dengan kata lain, hikmah yang paling sempurna adalah apa yang dikandung oleh Al-Qur’an.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk berpuasa. Bahkan berdasarkan perintah tersebut dan juga hadis-hadis Nabi Saw., puasa merupakan salah satu rukun (pilar) Islam. Puasa yang diperintahkan itu bukan sekadar menurut arti bahasanya, yaitu menahan, dan juga bukan sebatas sebagaimana didefinisikan oleh para fukaha, yaitu menahan perut dan kemaluan dari kesenangannya. Lebih dari itu, puasa yang diperintahkan tersebut melahirkan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan inilah hikmah puasa.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]:183).
Takwa adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Berdasarkan ayat ini, selain memperkuat keimanannya, kewajiban seorang mukmin adalah meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Di antara cara untuk meningkatkan takwa tersebut adalah dengan melaksanakan puasa.
Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam “al-Tafsīr al-Munīr”, pembentukan ketakwaan melalui puasa terjadi dari berbagai sisi. Di antaranya:






