Houthi Memegang Kunci Laut Merah
Kegagalan Tatanan Internasional
Ironisnya, ketidakmampuan mengamankan Bab-el-Mandeb terjadi di tengah kehadiran militer asing terbesar di dunia (AS) di kawasan ini. Di sisi Afrika, Djibouti menjadi rumah bagi setidaknya tujuh pangkalan militer asing: Amerika Serikat yang mengoperasikan Camp Lemonnier sejak 2002, China dengan Pangkalan Dukungan PLA, serta pangkalan dari Jepang, Italia, Prancis, dan fasilitas logistik Arab Saudi. Sementara itu, Rusia memperkuat hubungan militer dengan Eritrea di seberang selat.
Dari laut, koalisi maritim seperti Combined Maritime Forces (yang terdiri dari 46 negara) dan Operasi Aspides pimpinan Uni Eropa dibentuk untuk menjamin keselamatan pelayaran. Namun, kehadiran militer sebesar itu tidak mampu mencegah Houthi melancarkan serangan atau mengamankan jalur pelayaran. Kerangka hukum hak lintas transit (transit passage) dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut terbukti tidak berarti tanpa penegakan nyata.
Meminjam pandangan Mohamad Elmasry, keterlibatan Houthi dalam perang ini sangat signifikan karena jika mereka menutup Bab-el-Mandeb dan Laut Merah, maka dua titik penyempitan utama akan lumpuh bersamaan (Al Jazeera, 28 Maret 2026).
Kita bisa bilang saat ini Bab-el-Mandeb bukan lagi hanya jalur perdagangan. Akan tetapi telah menjadi ‘senjata aktor non-negara’ untuk melawan aktor negara superpower. Artinya, selama ini berbagai kekuatan besar hanya sibuk membangun pangkalan di sekitar selat tetapi tidak mampu mencegah penutupannya. Berarti, punya pangkalan itu bagus, tapi menguasai selat juga tidak bisa disepelekan.
Saat ini, Bab-el-Mandeb betul-betul jadi ‘senjata asimetris’ bagi Houti yang berafiliasi dengan Iran untuk melawan kekuatan superpower AS yang mulai kewalahan dalam perang melawan Iran.[]






