Ilusi ‘Lipstick Effect’ dan Rapuhnya Spiritual Gen Z
Pertama, akar masalah ini berhulu pada sistem kapitalisme yang menciptakan tekanan ekonomi struktural yang menghimpit Gen Z. Di sistem ini, biaya hidup dan inflasi terus melambung tinggi sementara pendapatan riil cenderung stagnan.
Ironisnya, negara seolah lepas tangan dari kewajiban konstitusionalnya untuk menjamin jaminan kebutuhan dasar warga, seperti perumahan murah, pendidikan tinggi, dan lapangan kerja layak. Akibatnya, generasi muda dipaksa berjuang sendiri demi bertahan hidup (survival).
Kedua, tekanan ekonomi yang berat tersebut diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang diadopsi oleh masyarakat modern. Pandangan hidup yang memisahkan agama dari keseharian ini mengaburkan esensi ketenangan dan menjadikan self-reward, healing, hingga konsumsi hedonis sebagai satu-satunya solusi pelarian dari stres.
Narasi ini kemudian diamplifikasi secara masif oleh media sosial yang terus-menerus mencekoki generasi muda dengan tren populer. Hal ini memicu kecemasan sosial (fear of missing out / FOMO) dan menyuburkan budaya belanja impulsif yang destruktif bagi dompet mereka.
Di balik semua lingkaran setan itu, terdapat krisis eksistensial yang jauh lebih dalam, yakni Gen Z kehilangan arah dan tidak memahami hakikat tujuan hidup yang sesungguhnya. Ketika sekularisme mencabut fondasi keimanan, kebahagiaan hidup diukur secara sempit dari kepemilikan materi dan kenikmatan fisik sesaat.
Padahal, ketahanan mental dan finansial yang sejati bagi seorang muslim hanya akan terwujud ketika orientasi hidupnya dikembalikan pada pencarian ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan upaya meraih kemuliaan Islam, bukan pada validasi semu di media sosial.
Oleh karena itu, carut-marut masalah generasi ini tidak akan selesai dengan sekadar perbaikan literasi keuangan yang parsial. Masalah ini membutuhkan perombakan sistemis yang berakar pada syariat Islam.
Pertama, dalam aspek tata kelola negara, tata politik Islam yang diterapkan dalam bingkai Khilafah akan menjamin seluruh kebutuhan dasar rakyat secara mutlak. Ini dilakukan melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang mandiri untuk dikembalikan kepada publik.
Negara juga berkewajiban memastikan ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki sebagai kepala keluarga. Dengan jaminan institusional ini, rakyat, termasuk Gen Z, tidak akan lagi dibiarkan terseok-seok berjuang sendiri di tengah hantaman biaya hidup.
Kedua, dari sisi budaya dan arus informasi, Islam secara tegas menutup pintu rapat-rapat bagi gaya hidup hedonis. Islam melindungi generasi muda dari paparan pemikiran merusak seperti sekularisme, kapitalisme, beserta seluruh turunannya.
Di bawah naungan sistem Islam, media massa tidak akan dibiarkan menjadi mesin pencetak profit yang menyuburkan FOMO dan konsumerisme. Media akan diarahkan sebagai sarana edukasi publik demi meningkatkan ketakwaan dan kecerdasan rakyat.
Ketiga, pada level individu dan keluarga, Islam membangun paradigma yang sahih mengenai hakikat penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Q.S. Az-Zariyat: 56).
Berangkat dari fondasi akidah yang kokoh inilah, kebahagiaan anak muda tidak lagi diukur dari validasi semu materi atau tren media sosial. Gen Z akan bertransformasi dari sekadar generasi yang rapuh secara finansial dan mental menjadi generasi visioner penumpu peradaban Islam yang mulia. []






