RESONANSI

Menggugat Langit Jelaga

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

Selama akar permasalahan di hulu—yaitu keserakahan dalam pembukaan lahan dan abainya perlindungan terhadap ekosistem esensial—tidak dibenahi secara radikal, selama itu pula jutaan warga kota harus rela menyerahkan kesehatan saluran pernapasan mereka sebagai harga yang harus dibayar.

Kabut kelabu itu datang tanpa permukaan yang ramah. Di pertengahan September 2026, pemandangan dari udara di atas beberapa kota besar di Sumatra dan Kalimantan menyajikan lanskap yang muram. Gedung-gedung tinggi, jembatan ikonik, hingga riak sungai yang biasanya memantulkan cahaya matahari pagi kini lenyap ditelan pekatnya suspensi udara beracun.

Indonesia kembali terjebak dalam siklus tahunan yang tak kunjung usai, yakni bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ironisnya, jeratan polusi ini tidak lagi sekadar menjadi momok musiman bagi kawasan pedalaman, melainkan telah mengepung wilayah urban dan melumpuhkan urat nadi kehidupan kota-kota besar. Amukan api di lahan-lahan gambut nun jauh di sana kini menjelma menjadi teror mikroba yang menyusup ke setiap ventilasi rumah, ruang kelas, hingga paru-paru jutaan warga kota yang tak berdaya.

Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) standar Amerika Serikat di beberapa wilayah terdampak dilaporkan telah menembus batas psikologis yang paling mencemaskan. Angka pemantauan tenggat realitas (real-time) merangkak naik dari kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga menyentuh zona berbahaya di atas skor 400.

Pada level ekstrem ini, udara tidak lagi sekadar kotor atau berbau sangit, melainkan telah berubah menjadi racun akut yang melayang bebas di atmosfer ambien. Pengukuran konsentrasi partikulat halus yang dikenal sebagai PM2,5 menunjukkan lonjakan berkali-kali lipat melampaui ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Partikel mikroskopis berukuran kurang dari 2,5 mikrometer ini menjadi aktor utama di balik layar yang paling diwaspadai oleh para ahli epidemiologi. Ukurannya yang sepertiga puluh dari sehelai rambut manusia membuat benteng pertahanan alami tubuh, seperti bulu hidung dan mukus tenggorokan, menjadi sama sekali tidak berguna.

Ketika partikel jelaga ini dihirup, mereka meluncur mulus tanpa hambatan menuju bagian terdalam dari sistem pernapasan manusia, yakni kantung udara alveolus. Di titik inilah bencana biologis dimulai. PM2,5 tidak hanya menetap di paru-paru dan memicu peradangan lokal, tetapi juga memiliki kemampuan mengerikan untuk menembus membran tipis pembuluh darah, lalu ikut mengalir bersama sel darah merah ke seluruh organ vital tubuh, termasuk jantung dan otak.

Dampaknya merusak secara senyap. Bagi masyarakat urban yang setiap hari berkejaran dengan waktu di jalanan, kepungan asap ini laksana memaksa seluruh populasi—mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang tua lanjut usia—untuk mengonsumsi udara yang setara dengan belasan batang rokok secara pasif setiap harinya tanpa jeda. Tidak ada ruang bagi organ pernapasan untuk beristirahat karena udara ambien yang dihirup saat terjaga maupun saat terlelap di dalam kamar sudah terkontaminasi secara merata.

Belenggu Musim Kering dan El Niño

Melacak asal-muasal petaka ini selalu berujung pada bentang alam yang meranggas di bawah sengatan kemarau panjang. Tahun ini, pengaruh fenomena iklim El Niño kembali menunjukkan taringnya dengan intensitas yang lebih kuat dari perkiraan awal. Curah hujan yang anjlok drastis membuat hamparan vegetasi dan kubah-kubah gambut di Sumatra bagian selatan serta sebagian besar Kalimantan kehilangan kelembapan alaminya.

Lahan gambut yang mengering berubah menjadi hamparan bahan bakar raksasa yang sangat rentan. Satu letikan api kecil saja—entah karena gesekan alamiah atau yang lebih sering karena faktor kesengajaan manusia untuk pembukaan lahan dengan biaya murah—dapat memicu kebakaran bawah permukaan yang menjalar tanpa kendali. Pemadaman kebakaran di lahan gambut merupakan mimpi buruk bagi para petugas Manggala Agni, karena api bisa terus menyala di kedalaman beberapa meter di bawah tanah meskipun permukaan atasnya tampak sudah padam.

Titik panas (hotspot) yang tertangkap oleh pencitraan satelit terus bertambah secara eksponensial dalam hitungan hari. Kepulan asap tebal dari pembakaran jutaan ton biomassa ini kemudian terbawa oleh pergerakan angin monsun yang berembus kencang, menggiring miliaran partikel polutan melintasi batas-batas administratif wilayah hingga mengepung kota-kota besar sekitarnya.

Kota Jambi, Palembang, Pontianak, Palangka Raya, hingga kota-kota di pesisir barat Sumatra kini harus menanggung konsekuensi logistik dari kebakaran tersebut. Langit yang biasanya biru berubah menjadi kuning pekat, bahkan kemerahan pada siang hari akibat fenomena hamburan cahaya oleh partikel asap yang sangat padat. Sinar matahari gagal menembus lapisan polutan ini, menciptakan atmosfer apokaliptik yang mencekam sekaligus menyesakkan dada bagi siapa saja yang berani melangkah ke luar ruangan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button