Inilah Tiga Pilar Metode Studi Islam
Atas dasar itulah Islam tidak membiarkan manusia membuang waktu untuk mengikuti hipotesis teoritis yang mengada-ada. Contohnya adalah pengandaian fiktif bahwa jika ada kehidupan di planet Mars, bagaimana orang-orang akan berpuasa Ramadan di sana sementara tidak ada bulan atau hilal untuk menentukan waktunya!
Sebaliknya, Islam menjadikan manusia yang hidup nyata di atas planet bumi ini sebagai objek seruan atau mahal al-khithab. Manusia di bumi pasti menjumpai bulan Ramadan sehingga ia wajib menunaikan ibadah puasa saat waktunya tiba.
Namun, Islam tetap memperhitungkan kondisi nyata seperti adanya awan yang mungkin menghalangi pandangan manusia untuk melihat bulan. Islam pun menyediakan hukum tertentu untuk mengatasi problematika mendung tersebut jika benar-benar terjadi di dunia nyata.
Mengenai kondisi ini, Rasulullah Saw. bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian, genapkanlah bilangan bulan Syakban menjadi tiga puluh hari.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, pengambilan tsaqafah disyaratkan harus bersifat realistis, bukan khayalan atau teoritis belaka. Tsaqafah tersebut wajib dipelajari untuk diamalkan saat faktanya terjadi dalam kehidupan, bukan sekadar untuk menikmati keindahan redaksinya.
Inilah metode Islam yang unik dalam studi atau belajar yang senantiasa dipraktikkan generasi terdahulu. Metode ini bertumpu pada sikap mendalam dalam pembahasan, meyakini hasil pembahasan, serta mengambil hal tersebut secara realistis untuk diterapkan di medan kehidupan.
Apabila studi telah memenuhi metenedenya ini, seorang muslim yang terbina dengan tsaqafah Islamiah akan memiliki karakter yang agung. Ia akan memiliki pemikiran yang mendalam, perasaan yang peka, serta kemampuan mumpuni dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan.
Sebab, metode ini membuat seorang muslim berjalan menuju kesempurnaan atas dasar kepatuhan dan pilihan sendiri secara alami. Ia pun tidak akan bisa menyimpang dari jalan ini selama ia konsisten memegang metode tersebut dalam kehidupannya.
Hal itu terjadi karena pemikiran Islam yang diambilnya dari tsaqafah ini bersifat menggugah, berpengaruh besar, realistis, jujur, serta merupakan solusi yang manjur. Di samping membuat pengembangnya bersemangat menyala-nyala, metode ini juga menanamkan kemampuan luar biasa pada diri seorang muslim.
Ia akan mampu menghadapi berbagai problematika kehidupan dengan solusi yang tepat dan akurat. Kemampuan solusi ini berlaku untuk masalah yang kecil maupun besar, serta yang mudah maupun yang sulit.
Oleh karena itu, akan terbentuk pada dirinya pola pikir atau ’aqliyyah Islam yang tangguh. Pola pikir ini tidak akan pernah rida kecuali dengan kepuasan akal dan ketenteraman hati yang hakiki.
Pada saat yang sama, akan terbentuk pula pola jiwa atau nafsiyyah Islam yang kokoh pada dirinya. Pola jiwa ini senantiasa dipenuhi oleh pancaran keimanan yang sempurna kepada Allah Swt.
Dengan perpaduan pola pikir dan pola jiwa inilah, seseorang akan dihiasi oleh sifat-sifat mengagumkan yang dituntut oleh Islam. Melalui kesatuan ini pula, ia akan mampu mengatasi segala rintangan dan kesulitan yang menghadangnya di tengah jalan.
Hal itu dapat terjadi karena materi di dalam tsaqafah Islamiah mengandung pemikiran-pemikiran yang mendalam lagi cemerlang. Pemikiran-pemikiran tersebut dibangun di atas landasan akidah yang mencerminkan kesadaran penuh manusia akan hubungannya dengan Allah Swt.
Sebab, aturan tersebut adakalanya berasal langsung dari Allah Swt. atau digali dari perkara yang datang dari sisi-Nya. Perkara tersebut bersumber dari Al-Qur’an atau sunah Rasulullah Saw.
Di dalam tsaqafah ini, terkandung dimensi pemikiran yang kuat ditinjau dari eksistensinya sebagai sebuah produk pemikiran. Di dalamnya juga terkandung dimensi ruhani ditinjau dari adanya kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. saat mengambil aturan tersebut.
Oleh karena itu, tsaqafah ini menjadikan setiap pengembangnya berpikiran mendalam sekaligus cemerlang. Ia akan memiliki semangat yang berkobar, serta telah menjual dirinya kepada Allah Swt. di jalan Islam demi mengharapkan rida-Nya semata.
Anda juga akan mendapati pengembangnya sebagai sosok yang mengetahui dengan pasti apa yang ia inginkan di dunia ini. Ia memahami dengan baik cara memecahkan problematika kehidupan karena telah mempelajari hakikat-hakekat sejati untuk mengarungi medan kehidupan.
Dengan demikian, ia mengarungi samudra kehidupan dengan dibekali oleh sebaik-baik bekal yang ada. Bekal tersebut berupa pemikiran yang cemerlang, ketakwaan yang menghujam, serta makrifat yang mampu menyelesaikan seluruh problematika, di mana inilah muara dari segala kebaikan yang menyeluruh.[]
Shodiq Ramadhan






