Israel Diam-Diam Bangun 40 Pos Militer Permanen di Gaza
Citra satelit pada 18 Mei 2026 menunjukkan lokasi tersebut telah dilengkapi dengan area parkir kendaraan militer, tempat tinggal pasukan, serta ruang rapat operasional.
Pola militerisasi cepat yang serupa juga terlihat di wilayah Beit Lahiya, Gaza utara, yang kini telah berubah menjadi kompleks militer tertutup.
Selain membangun pangkalan baru, militer Israel juga secara agresif meningkatkan kapasitas pos-pos yang telah ada di dalam zona Garis Kuning.
Di sebelah timur Kota Gaza, sebuah pos militer memperluas luas areanya sekitar 70 persen antara Oktober 2025 dan Mei 2026.
Di Gaza tengah, sensor satelit mendeteksi penggalian parit-parit pertahanan yang dalam di sekitar instalasi militer lama sebagai tanda kesiapan untuk keberadaan jangka panjang.
Tujuan strategis infrastruktur ini paling jelas terlihat di sekitar Koridor Netzarim, jalur yang digunakan tentara Israel untuk memisahkan Gaza utara dari Gaza selatan.
Al Jazeera mengidentifikasi tiga pos militer terpisah yang menjaga wilayah tersebut untuk memastikan Israel tetap dapat mengendalikan pergerakan penduduk.
Di Juhor ad-Dik, sebidang tanah kosong dengan cepat berubah menjadi pangkalan militer baru setelah pekerjaan tanah dimulai pada Maret 2026.
Sebaran geografis 40 pos militer tersebut menunjukkan strategi pengepungan yang disengaja terhadap permukiman Palestina.
Arsitektur militer yang menyesakkan ini sangat membatasi kemampuan warga sipil untuk bergerak bebas atau mengakses lahan mereka.
Perluasan pendudukan ini bertentangan langsung dengan perjanjian gencatan senjata Oktober 2025 yang didasarkan pada rencana perdamaian usulan Presiden AS Donald Trump.
Analis politik Palestina Abdullah Aqrabawi menyatakan bahwa setelah peristiwa 7 Oktober 2023, kontrol wilayah telah menjadi inti doktrin keamanan Israel.






