Israel Serang Lebanon: 2.020 Orang Gugur dan 6.436 Terluka
Gencatan Senjata Diabaikan, Eskalasi Terus Berlanjut
Serangan ini terjadi meskipun sebelumnya diumumkan adanya gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan antara Iran dan Amerika Serikat. Teheran dan Islamabad menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup Lebanon.
Namun, Washington dan Tel Aviv membantah hal tersebut dan tetap melanjutkan operasi militer. Bahkan, serangan ini berlangsung selama empat hari berturut-turut, menunjukkan kegagalan upaya deeskalasi di lapangan.
Ironisnya, eskalasi militer ini terjadi di tengah rencana pertemuan langsung pertama antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada Selasa mendatang, untuk membahas kemungkinan dimulainya negosiasi resmi antara kedua pihak.
Korban Terus Bertambah
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak dimulainya agresi Israel pada 2 Maret 2026, jumlah korban telah mencapai sekitar 2.020 orang tewas dan 6.436 lainnya terluka.
Bahkan, pada hari pertama gencatan senjata, serangan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 357 orang dan melukai lebih dari 1.200 lainnya—menjadikannya salah satu hari paling berdarah sejak konflik dimulai.
Kecaman atas Pelanggaran Hukum Internasional
Gelombang serangan yang menyasar wilayah sipil, tenaga medis, serta infrastruktur dasar kembali memicu kritik tajam dari berbagai kalangan internasional. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Konvensi Jenewa secara tegas melarang penargetan terhadap warga sipil dan tenaga medis dalam konflik bersenjata. Namun, fakta di lapangan menunjukkan pola serangan yang justru mengabaikan prinsip-prinsip tersebut.
Situasi ini memperdalam krisis kemanusiaan di Lebanon selatan, sekaligus menambah tekanan terhadap komunitas internasional yang dinilai belum mampu menghentikan eskalasi kekerasan secara efektif.[]






