NUIM HIDAYAT

Jadilah Teladan

Pemimpin-pemimpin dunia yang dianggap hebat, seperti Gamal Abdel Nasser, Soekarno, BJ Habibie, Raja Faisal, Mao Zedong, Barack Obama, Mikhail Gorbachev, hingga Vladimir Lenin, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Rasulullah saw.Tidak ada satu pun tokoh dunia yang detail kehidupannya dicatat secara rinci kecuali Rasulullah saw.Ratusan ribu ucapan dan tindakan beliau diriset dan dibukukan oleh para dosen serta ulama hadis.

Akhlaknya dijelaskan secara detail, tata cara ibadahnya ditulis transparan, ciri fisik dan ketampanannya dipaparkan, momen marah dan diamnya dicatat, kehidupan rumah tangganya terungkap, serta perjalanan hidupnya dari lahir hingga wafat didokumentasikan secara rinci. Nabi Muhammad melihat. sejak kecil dikenal sebagai sosok yang saleh dan jujur ​​sehingga sangat dipercaya oleh masyarakatnya.

Berkat integritas tersebut, ketika beliau menyatakan telah menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril di Gua Hira, masyarakat yang berakal sehat dapat menerimanya. Secara logistik, tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya tiba-tiba melakukan kejadian besar saat dewasa; kejujuran adalah karakter melekat yang membentengi dirinya dari ringkasan. Hal inilah yang gagal dipahami oleh para orientalis dan sebagian pemuka agama lain yang memenuhi rasa dengki.

Mereka melancarkan tuduhan keji bahwa Muhammad menjiplak ajaran terdahulu, menuduh beliau gila, hingga menghina peristiwa Isra’ Mi’raj. Para pemuka agama tersebut takut jemaahnya mempercayai kebenaran Islam, sementara para orientalis terjangkit imajinasi intelektual yang menolak persetujuan pada kebenaran ilahiah karena mengagungkan rasionalitas semata.

Islam merupakan agama dengan perkembangan tercepat di dunia. Dalam kurun waktu kurang dari satu abad sejak Nabi Muhammad saw. diutus, risalah Islam telah menyebar luas hingga ke Eropa dan Nusantara. Ketika Nabi masih hidup, kawasan Jazirah Arab telah memeluk Islam, termasuk penduduk Makkah dan Madinah yang berbondong-bondong masuk Islam karena terpesona oleh keagungan akhlak Rasulullah saw.

Saat peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Makkah), Rasulullah saw. dan ribuan pasukannya memiliki kekuatan penuh untuk membalas dendam atas penyiksaan dan pengusiran yang alami mereka dulu. Namun, beliau justru memberikan pengampunan umum kepada seluruh penduduk Makkah. Menyaksikan keluhuran budi, jiwa pemaaf, dan ketiadaan balas dendam pada diri Nabi, masyarakat Makkah pun masuk Islam secara sukarela.

Sementara itu, penduduk Madinah menerima Islam berkat kegigihan para dai dan sahabat yang diutus Nabi. Para sahabat berdakwah dengan tulus karena mereka menyadari bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan Nabi memiliki bahasa yang sangat indah dan bermakna di dalamnya. Selain itu, mereka menyaksikan langsung keteladanan nyata Nabi dalam kehidupan sehari-hari yang rendah hati, suka bermusyawarah, dermawan, serta sangat memuliakan wanita.

Rasulullah saw. wafat pada usia 63 tahun dengan meninggalkan ribuan sahabat yang telah terdidik dengan jiwa Qur’ani. Oleh karena itu, ketika beliau wafat, proses suksesi kepemimpinan di Madinah berlangsung cepat dan demokratis melalui musyawarah hingga terpilihnya Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra, disusul oleh Sayidina Umar bin Khattab ra, dan Sayidina Utsman bin Affan ra

Meskipun beberapa khalifah gugur dibunuh oleh musuh, landasan keteladanan mereka telah membawa Islam menyebar ke Mesir, Palestina, Syam, dan wilayah lainnya. Keberhasilan penyebaran Islam pada masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin terletak pada dua pilar utama: kebenaran sejati ajaran Al-Qur’an dan adanya keteladanan nyata dari para pembawa risalah.

Masyarakat melihat keselarasan yang sempurna antara ajaran yang disampaikan dengan perilaku para dainya. Apabila ulama dan tokoh agama menunjukkan akhlak yang buruk, masyarakat akan enggan menerima Islam karena sebagian besar manusia menilai Islam dari perilaku pemeluknya, bukan sekadar konsep yang tertulis..

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, sangat merasakan penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS.At-Taubah [9]: 128)

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button