NUIM HIDAYAT

Jadilah Teladan

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi no.3895)

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan وَمَالِكَ

“Sebaik-baik wanita adalah jika kamu memandangnya, ia menyenangkanmu; jika kamu memerintahkannya, ia menaatimu; jika kamu berjanji padanya, dia memenuhinya; dan jika kamu pergi meninggalkannya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. An-Nasa’i no. 3231 & Ahmad)

خَيْرُ نِسَائِكُمُ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْمُوَاتِيَةُ الْمُوَاسِيَةُ، إِذَا اتَّقَيْنَ اللَّهَ

“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang penyayang, penuh kasih, banyak memberikan keturunan, mudah menyesuaikan diri, dan suka membantu, apabila mereka bertakwa kepada Allah.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra)

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan terbaik dunia adalah wanita yang salihah. (HR.Muslim no.1467)

Al-Qur’an adalah panduan berpikir dan panduan hidup bagi kaum muslim, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Al-Qur’an mengajarkan petunjuk keteladanan para nabi, pembentukan sistem ekonomi adil tanpa riba, sistem politik berbasis kepemimpinan teladan (teodemokrasi) yang membela kaum lemah, serta sistem sosial-budaya dan pendidikan yang melahirkan generasi cerdas, kreatif, dan bertakwa.

Selain diperintahkan untuk taat kepada Rasulullah saw, Al-Qur’an juga mendorong pemikiran kreatif dan inovasi pemikiran (ijtihad). Dalam berijtihad, para ulama dan cendekiawan muslim perlu menguasai Al-Qur’an dan Sunnah serta mengintegrasikannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern—seperti ilmu komunikasi, psikologi, sosiologi, dan sains—sehingga ijtihad yang dihasilkan tetap relevan dan tidak terlepas dari kenyataan zaman..

Misalnya, dalam menanggapi isu-isu kontemporer seperti hukum kadar atau seni musik, pemikiran keislaman hendaknya tidak bersifat kaku. Penggunaan ilmu komunikasi dan psikologi membantu kita memahami bahwa ekspresi wajah adalah pilar penting dalam interaksi sosial. Demikian pula dalam hal seni dan musik, Kebudayaan Islam di masa keemasan seperti Andalusia membuktikan bahwa seni yang diisi dengan syair mulia dan nilai kebaikan dapat menjadi sarana pembangun peradaban yang berkeadaban.

Keteladanan para kyai, ustadz, dan cendekiawan Muslim dalam kehidupan sehari-hari merupakan menjadi kunci utama terbentuknya peradaban Islam yang unggul. Ketika peradaban Barat kini mengalami krisis moral dan spiritual, peradaban Islam memiliki peluang besar untuk tampil memberikan solusi dan teladan bagi dunia.

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkanikan buahnya pada setiap waktu denganizin Tuhannya. Dan Allah membuatkan perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selaluingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dari permukaan bumi; tidak dapat tetap tegak sedikitpun. Allah meneguhkseorang (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menggerakkan orang-orang yang zalim danAllah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim [14]: 24–27)

اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ ۢ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۗوَمِمَّا يُوْقِدُوْنَ عَلَيْهِ فِى النَّارِ ابْتِغَاۤءَ حِلْيَةٍ اَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهٗ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ەۗ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءً ۚوَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ ۗ

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah sesuai ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buih seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (tentang) yang hak dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang bermanfaat bagi, ia maka akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumamaan-perumamaan.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 17)

Wallāhu ‘alīmun ḥakīm. Wallāhu ‘azīzun ḥakīm.[]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button