Jejak Dukungan Maduro untuk Kemerdekaan Palestina
Nicolás Maduro, Presiden Venezuela yang kini diculik oleh Militer Amerika Serikat, telah lama memposisikan dirinya sebagai salah satu pengkritik Israel paling vokal di Amerika Latin dan pendukung paling teguh perjuangan Palestina.
Bagi Amerika Serikat dan sebagian negara Barat, ia adalah musuh bebuyutan, namun bagi rakyat Palestina dan banyak negara di belahan bumi selatan (Global South), Maduro dianggap sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling berani menyuarakan kebenaran terkait genosida di Gaza.
Keberaniannya ini bukan tanpa risiko; ia harus menghadapi tekanan luar biasa dari Amerika Serikat hingga ia diculik oleh militer AS atas perintah Presiden Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Siapa Nicolas Maduro?
Nicolás Maduro Moros memulai perjalanan politiknya jauh dari istana kepresidenan. Lahir pada 23 November 1962 di Caracas dari keluarga kelas pekerja. Ia bekerja sebagai sopir bus untuk perusahaan Metro Caracas, di mana ia mendirikan serikat pekerja tidak resmi. Perkenalannya dengan politik revolusioner datang melalui Liga Sosialis, yang mengirimnya ke Kuba untuk pelatihan politik pada tahun 1980-an.
Kebangkitan politik Maduro menjadi sangat terkait dengan Hugo Chávez. Dia bergabung dengan Gerakan Revolusioner Bolivarian-200 (MBR-200) pada awal 1990-an dan berkampanye untuk pembebasan Chávez setelah upaya kudeta 1992.
Ketika Chávez menjadi presiden, Maduro menanjak melalui berbagai jabatan, bertugas sebagai anggota Majelis Nasional, Presiden Majelis, Menteri Luar Negeri (2006-2012), dan akhirnya sebagai Wakil Presiden pada 2012.
Momen penting terjadi dengan meninggalnya Chávez karena kanker pada 5 Maret 2013. Maduro, sebagai Wakil Presiden, mengambil alih peran sebagai penjabat presiden dan ditunjuk sebagai penerus pilihan Chávez oleh Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) yang berkuasa.
Dalam pemilihan presiden khusus yang diadakan pada 14 April 2013, Maduro mengamankan kemenangan tipis atas kandidat oposisi Henrique Capriles, menang hanya dengan 1,49%— menjadikan pemilihan presiden terketat di Venezuela sejak 1968. Setelah audit mengonfirmasi hasilnya, Maduro dilantik sebagai presiden pada 19 April 2013.
Selama lebih dari satu dekade memimpin, ia membawa panji “Sosialisme Abad ke-21” yang menitikberatkan pada kedaulatan sumber daya alam dan kemandirian dari pengaruh Washington.
Mengapa Donald Trump dan AS Membencinya?
Perseteruan antara Maduro dan Amerika Serikat mencapai titik didih selama masa jabatan Presiden Donald Trump. Ada beberapa alasan fundamental mengapa Trump menjadikan Maduro sebagai target utama “rezim perubahan”:
Ideologi dan Pengaruh Sosialis. Trump secara terbuka menyatakan perang terhadap sosialisme di belahan bumi barat. Venezuela di bawah Maduro dianggap sebagai “ancaman bagi stabilitas regional” karena aliansinya dengan Rusia, China, dan Iran.
Kedaulatan Minyak. Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Kebijakan Maduro yang mempertahankan kontrol negara atas industri minyak (PDVSA) dianggap merugikan kepentingan korporasi energi AS yang ingin kembali menguasai sumber daya tersebut.






