Jejak Dukungan Maduro untuk Kemerdekaan Palestina
Kecamannya terhadap Genosida di Gaza
Sejak serangan Israel ke Jalur Gaza yang meningkat tajam pada akhir 2023 hingga 2025, Maduro tidak ragu menggunakan istilah yang sangat keras. Ia menyebut tindakan Israel di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu sebagai “genosida paling mengerikan di abad ini.”
Dalam berbagai pidatonya, Maduro membandingkan situasi di Gaza dengan peristiwa Holocaust pada Perang Dunia II.
“Apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina adalah apa yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi,” tegasnya dalam sebuah pertemuan di Caracas pada September 2024 lalu.
Ia menuduh komunitas internasional, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, melakukan standar ganda karena membiarkan pembantaian lebih dari 71 ribu warga sipil, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak.
Pernyataan Maduro tentang Kemerdekaan Palestina
Pemerintah Venezuela, di bawah Maduro dan sebelumnya di bawah Chávez, telah menjadi advokat konsisten untuk keanggotaan penuh Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pembentukan negara Palestina yang merdeka di sepanjang perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Posisi ini dibingkai sebagai perjuangan anti-kolonial fundamental.
Bagi Nicolas Maduro, Palestina yang merdeka adalah sebuah kepastian sejarah yang tidak bisa dihentikan oleh senjata mana pun. Ia sering menyebut Palestina sebagai “Tanah Suci Kemanusiaan.” “Perjuangan Palestina adalah perjuangan paling adil dalam sejarah kemanusiaan,” ujar Maduro (16/12/2024).
Ia juga meminta Paus Fransiskus dan para pemimpin agama di seluruh dunia untuk lebih lantang bersuara melawan pendudukan Zionis. Maduro meyakini bahwa Yerusalem akan kembali menjadi kota suci yang damai bagi semua etnis dan agama, bukan kota yang dikuasai oleh kekuatan imperialis yang gila perang.[MS]






