Jejak Emas Para Ulama Penjelajah Islam
Mereka juga menyebarluaskan bahasa dan agama mereka, lalu membaur dengan penduduk asli melalui pernikahan silang. Tak butuh waktu lama, dalam satu atau dua generasi, mereka telah menyatu dengan bangsa yang mereka datangi.
Perjalanan laut mereka pun tidak kalah menakjubkan jika dibandingkan dengan penjelajahan darat. Mereka membangun kapal-kapal besar untuk navigasi di Laut Tengah, Laut Merah, dan Samudra Hindia.
Bahkan, sebagian penjelajah menggambarkan adanya kapal layar yang mampu mengangkut ribuan penumpang. Hebatnya lagi, di dalam kapal tersebut sudah tersedia kedai-kedai untuk berniaga.
Terdapat banyak contoh lain mengenai pengembaraan demi ilmu, seperti kisah yang dituturkan oleh Al-Idrisi. Beliau menceritakan sekelompok pemuda yang saling bersepupu dari kota Lisboa pada abad ke-4 Hijriah.
Mereka membuat kapal sendiri, mengisinya dengan perbekalan, lalu nekat mengarungi Samudra Atlantik (Bahrul Zhulumat). Misi mereka adalah menembus samudra demi menyingkap berita, keajaiban, serta mengetahui di mana ujung lautan tersebut.
Contoh lainnya adalah ilmuwan besar Al-Biruni yang berasal dari Khwarazm. Di kampung halamannya, beliau sampai dijuluki “Sang Asing” karena masa perantauannya yang sangat lama dan intensitas safarnya yang tinggi.
Beliau memiliki pemikiran ilmiah yang luar biasa dalam bidang matematika dan astronomi. Al-Biruni pergi merantau ke India setelah sebelumnya berhasil menguasai ilmu-ilmu Yunani kuno, seperti matematika dan geometri.
Di sana beliau mempelajari ilmu-ilmu India, lalu membuat komparasi antara sains India dan sains Yunani. Melalui studi itu, beliau menjelaskan sisi kelemahan masing-masing sistem keilmuan secara objektif.
Beliau juga membedah kondisi sosial masyarakat India. Hasil riset sosiologis tersebut kemudian beliau tuangkan ke dalam berbagai karya tulis.
Sementara itu, para ahli hadis menjelajahi seluruh pelosok dunia Islam dari ujung ke ujung. Mereka melacak keaslian riwayat-riwayat hadis yang ada sekaligus mengumpulkan teks yang tersebar di berbagai wilayah.
Mereka menimba ilmu langsung dari para guru di setiap daerah. Sebagian dari mereka dengan bangga menyatakan telah mengembara dari Mesir ke Syam, berlanjut ke Hijaz, Irak, hingga Khurasan demi memburu dan membukukan ilmu.
Ini hanyalah segelintir contoh kecil dari lembaran penjelajahan umat Islam pada masa-masa awal mereka. Pada masa kemuliaan dan kejayaan tersebut, mereka rela berlayar demi agama, demi dunia, dan demi ilmu pengetahuan.[]
(Disadur dari karya Ahmad Amin, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6)






