#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Joe Kent Menolak Perang

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

Di tengah perang Iran yang terus meluas, guncangan justru datang dari dalam Gedung Putih. Joe Kent, Direktur National Counterterrorism Center, mengundurkan diri pada 18 Maret 2026.

Kent bukan birokrat biasa. Veteran Pasukan Khusus dengan 11 kali penugasan tempur, duda perang yang istrinya tewas di Suriah pada 2019, dan loyalis garis keras MAGA (Make America Great Again) yang dua kali didukung Trump dalam pencalonannya ke Kongres. Pengunduran dirinya adalah tamparan paling keras bagi administrasi Trump dari dalam.

Surat yang Mengguncang

Dalam surat pengunduran dirinya yang dipublikasikan di media sosial, Kent menulis dengan terus terang: “Saya tidak bisa dengan hati nurani mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman yang akan datang bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi kuat Amerika-nya.” Ia mengingatkan Trump bahwa ia pernah memahami perang Timur Tengah sebagai perangkap yang merampas nyawa para patriot Amerika. Namun kini, ia menilai Trump telah tertipu.

Kent menuduh adanya “kampanye disinformasi” yang dilancarkan pejabat tinggi Israel dan media Amerika untuk mendorong perang. Menurutnya, perang terhadap Iran ini mengandung kebohongan dan taktik yang sama yang digunakan Israel untuk menyeret kita ke dalam perang Irak yang membawa bencana. Ia menyebut pengalaman pribadinya sebagai suami dari prajurit yang gugur dalam “perang yang diproduksi Israel” sebagai alasan ia tidak bisa mendukung pengiriman generasi berikutnya ke medan perang yang tidak bermanfaat bagi rakyat Amerika.

Reaksi Trump dan Perpecahan di Kubu MAGA

Reaksi Trump cepat dan sinis. Di hadapan wartawan di Oval Office, ia menyebut Kent sebagai pribadi yang “lemah dalam keamanan” dan menganggap pengundurannya sebagai hal yang baik. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut klaim Kent telah menghina Trump. Ketua DPR Mike Johnson menilai Kent keliru, sementara Senator Tom Cotton menghormati pengorbanan keluarganya tetapi tidak setuju dengan penilaiannya yang dianggap keliru.

Namun yang menarik, Kent justru mendapat dukungan dari kalangan yang tidak terduga. Tucker Carlson, komentator konservatif berpengaruh, memujinya sebagai “pria paling berani yang saya kenal.” Carlson menegaskan bahwa Kent memiliki akses ke intelijen tertinggi dan tetap memilih mundur meski tahu akan dihancurkan oleh kelompok neokonservatif. Ini menandai perpecahan serius di dalam basis MAGA yang selama ini solid mendukung Trump.

Isolasi yang Meluas

Pengunduran diri Kent bukan insiden terpencil. Rachel Clayton di ABC News mencatat bahwa Kent bergabung dengan suara-suara kritis lainnya, termasuk Wakil Presiden JD Vance yang dilaporkan “kurang antusias” terhadap perang, dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard yang memilih bungkam. Gabbard, atasan langsung Kent, bahkan tidak menyebut namanya dalam pernyataan dukungannya kepada Trump—sinyal diam yang berbicara banyak.

Di tingkat internasional, isolasi terhadap Trump semakin nyata. Sekutu tradisional seperti Inggris dan Australia enggan bergabung dalam koalisi militer. Ketika Trump menelepon Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, ia mendengar permintaan untuk “bertanya kepada tim saya” sebelum komitmen militer—respons yang membuat Trump frustrasi. “Kau perdana menteri, kau bisa memutuskan,” balas Trump, memperlihatkan jurang pemahaman tentang bagaimana sekutu demokratis berfungsi.

Profesor Paul Quirk dari University of British Columbia menilai pengunduran diri Kent sebagai “jerami yang mematahkan punggung unta.” Ia bergabung dengan gunung bukti bahwa perang ini diluncurkan secara ceroboh, tanpa perencanaan, dan berdasarkan kebohongan.

Pengunduran diri Joe Kent adalah bukti bahwa perang Iran tidak hanya salah secara moral, tetapi juga tidak didasarkan pada fakta. Seorang veteran perang, duda yang kehilangan istri di medan tempur, dan loyalis MAGA paling setia sekalipun akhirnya bersuara bahwa ‘perang ini adalah kebohongan.’ Ketika orang dalam yang memiliki akses intelijen tertinggi berani angkat bicara, publik harus bertanya: jika bukan karena ancaman nyata, lalu untuk siapa sebenarnya perang ini? Sangat jelas, perang ini untuk Israel.[]

Back to top button