Julaibib: Pelajaran tentang Keikhlasan Hati dan Kepekaan Sosial
Rasulullah memperhatikannya sejenak dengan wajah sedih, lalu berkata: ‘Sesungguhnya dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya”. Kata-kata singkat, padat namun penuh makna. Kata-kata yang membuat kagum sekaligus iri para sahabat. Ternyata Julaibib yang selama ini sering tidak mereka perhatikan, tidak terlalu dipedulikan kehadiran atau ketidakhadirannya, adalah orang yang sangat istimewa di hati Rasulullah.
Lalu hal apakah yang membuat Julaibib begitu istimewa? Padahal tidak ada something special dari dirinya. Bahkan, bisa dikatakan ia “invisible” di tengah-tengah para sahabat. Namun, di tengah keterasingan dirinya yang seolah tak terlihat, Julaibib mampu mengkondisikan diri dan menata hati dengan baik. Ia ridha dengan keadaan yang Allah berikan.
Hatta walaupun dirinya harus selalu menepikan perasaan ingin diakui dan dihargai sebagai seorang insan, suatu hal yang sangat manusiawi. Inilah yang membuat Rasulullah takjub padanya. Ia tidak larut dalam perasaan inferior. Alih-alih tenggelam didalamnya, ia justru mengubahnya menjadi himmah dan ghirah untuk bersaing dalam arena fastabiqul khairat.
Julaibib, dengan keadaan fisik dan status sosial yang tidak mentereng, memikat sang nabi dengan keridhaan hati yang lapang terhadap Allah dan Rasulnya. Julaibib, dengan sumber daya yang terbatas, selalu tanpa batas dalam pengorbanan dalam dakwah dan amal prioritas. Kecintaannya pada nabi ia letakkan di atas kecintaan pada dirinya sendiri.
Pun ketika ia ditanya sang nabi tidakkah ia ingin menikah? Dengan kerendahan hati dan tahu posisi diri ia menjawab: Siapakah yang mau menikahkan anaknya dengan saya yang miskin dan buruk rupa ini ya Rasulullah? Rasulullah diam dan berlalu. Keesokan harinya pertanyaan yang sama kembali diajukan oleh Rasulullah kepada Julaibib, dan jawaban Julaibib tetap sama seperti sebelumnya. Rasulullah pun berlalu.
Julaibib yang sangat peka kepada suasana hati Rasulullah, berkata kepada dirinya sendiri: Demi Allah kalau besok beliau bertanya lagi, maka aku akan menyerahkan tentang keadaan diriku kepada Rasul. Esoknya ketika Rasulullah bertanya lagi tentang hal yang sama kepada Julaibib, ia tidak ingin mengulang kesalahan dan menyia-nyiakan kesempatan, “Nikahkanlah saya dengan wanita yang engkau pilihkan wahai Rasul Allah”.
Rasulullah tersenyum lalu kemudian mengajak Julaibib ke rumah sahabat Anshar yang dikenal sebagai salah satu orang terpandang di Madinah. Rasulullah mengetuk pintu, sang tuan rumah begitu senang tak terkira setelah mengetahui sang nabi yang menjadi tamu.
Rasulullah menyampaikan hajat beliau untuk meminang putri keluarga tersebut. Dengan penuh kesyukuran, mereka langsung menerima putri mereka dilamar oleh Rasul Allah. Bagi mereka sebuah kehormatan jika dapat menyambung hubungan keluarga dengan Nabi.
Rasulullah yang menyadari tuan ramah salah paham tentang lamarannya, lalu menjelaskan bahwa lamaran tersebut bukan ditujukan untuk dirinya tetapi untuk Julaibib. Seketika roman wajah sang tuan rumah berubah, ia lalu berkata minta waktu sejenak untuk mendiskusikan lamaran tersebut dengan istri dan putrinya. Diskusi alot terjadi di balik pintu, menyiratkan keberatan sang tuan rumah untuk merelakan putrinya diperistri oleh Julaibib.
Lalu jawaban sang putri menyadarkan pasangan suami-istri tersebut: “Wahai ayah, wahai ibu, tidak selayaknya kita menolak permintaan nabi. Sesungguhnya tidak akan mungkin nabi akan menjerumuskan kita kepada keburukan. Jika ini memang sudah perintah Allah dan Rasulnya, insyaaallah pasti ada kebaikan pada perintah tersebut.”
Mendengar jawaban mantap dari putrinya, laki-laki Anshar tersebut tersadar dan kemudian ridha terhadap keputusan putrinya. Ia pun menerima lamaran Rasulullah untuk menikahkan putrinya dengan Julaibib.
Julaibib senang tak terperi. Rasa hati ingin terbang membayangkan ia akan segera menikah dengan wanita mulia nan cantik jelita. Namun di sisi lain ia bimbang karena tidak memiliki apapun yang dapat ia jadikan mahar dan modal awal untuk memulai hidup berumah tangga. Rasulullah yang sangat memahami situasi Julaibib, memintanya menjumpai sejumlah sahabat atas perintah langsung dari beliau. Akhirnya ia memiliki bekal awal untuk mengarungi bahtera rumah tangga.






