SUARA PEMBACA

Jadikan Rasulullah sebagai Teladan

Pemberitaan mengenai seorang ustaz asal Mesir yang ditetapkan sebagai tersangka pelaku pelecehan seksual terhadap santri laki-laki kini tengah ramai diperbincangkan di jagat media sosial.

Fenomena penyimpangan seksual atau yang dikenal dengan istilah boti tersebut kian memprihatinkan karena korbannya terus bertambah dan pelakunya berasal dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang memiliki latar belakang agama.

Masyarakat merasa sangat terkejut karena seorang hafiz yang seharusnya menjadi penjaga wahyu justru menjadi pelaku penyimpangan yang menelan banyak korban.

Kejadian ini semakin menguatkan keyakinan bahwa tidak ada teladan terbaik yang patut diikuti oleh umat manusia selain Rasulullah ﷺ (news.detik.com, 24/10/2026).

Keheranan netizen terhadap sosok yang dikenal alim namun terjerumus ke dalam kemaksiatan merupakan hal yang wajar, mengingat mereka memiliki pemahaman ilmu yang lebih tinggi dibandingkan manusia pada umumnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan pengultusan yang salah sasaran, di mana kekaguman justru diarahkan kepada sosok ustaz tertentu, bukan lagi kepada Rasulullah ﷺ.

Kondisi tersebut menyebabkan seseorang merasa harus mendapatkan ilmu hanya dari tokoh idola mereka, alih-alih menyerap hakikat ilmu yang disampaikan oleh para ulama secara objektif.

Padahal, Allah Swt. telah mengingatkan secara tegas dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 24 agar setiap Muslim menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai satu-satunya teladan dan menempatkan kecintaan kepada Allah serta Rasul-Nya di atas segalanya:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Peristiwa ini menjadi tamparan sekaligus bahan perenungan atas sikap manusia yang terkadang masih menonjolkan kebanggaan terhadap diri sendiri maupun kepemilikan duniawi.

Terkait hal ini, terdapat kisah menarik dari percakapan Umar bin al-Khaththab bersama Rasulullah ﷺ yang mencerminkan prioritas kecintaan seorang mukmin.

Kala itu, Umar berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Tidak. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sampai aku lebih dicintai daripada dirimu sendiri.”

Umar bin al-Khaththab pun merespons, “Kalau begitu, sungguh demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri,” yang kemudian dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ (HR Al-Bukhari).

1 2Laman berikutnya
Back to top button