Man Jadda Wajada
بسم الله الرحمن الرحيم
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa kata jaahaduu fiinaa berarti orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah, yaitu berjalan di atas jalan kebenaran (al-haq). Sementara Imam Ash-Shawi Al-Maliki menafsirkannya sebagai kesungguhan melawan hawa nafsu (jihadun nafs) di jalan Allah SWT.
Imam Ash-Shawi juga mengutip beberapa pendapat ahli tafsir. Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Orang-orang yang serius dalam menuntut ilmu akan dianugerahi ilmu yang bermanfaat.” Sahal bin Abdullah berkata, “Orang-orang yang istiqamah dalam amal saleh akan diberikan pahala berlipat ganda.” Ahli tafsir lainnya menyebutkan, “Orang-orang yang serius mengajarkan ilmunya akan dianugerahi ilmu yang sebelumnya belum ia ketahui (ilmu ladunni), sebagaimana isyarat dalam QS. Al-Baqarah ayat 282.” (Tafsir Ash-Shawi Al-Maliki, Juz III, hlm. 142).
Dalam bahasa Arab, kata jaahada atau jaahaduu bermakna bersungguh-sungguh atau serius. Dalam istilah populer Arab dikenal ungkapan jadda, yang jika dijawab dengan bentuk khabar menjadi wajada, artinya berhasil atau sukses.
Dari sinilah muncul pepatah terkenal:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.”
Dalam perspektif syariat Islam, pepatah ini menjadi motivasi bagi umat agar bekerja keras untuk mencapai tujuan, baik duniawi maupun ukhrawi, dengan keyakinan bahwa pada hakikatnya Allah-lah yang memberikan keberhasilan. Karena itu, hasil usaha wajib dipersembahkan kepada Allah agar bernilai ibadah dan mendatangkan pahala.
Islam mengajarkan pentingnya usaha maksimal (ikhtiar), kesabaran, dan tawakal. Ungkapan Man Jadda Wajada menjadi energi positif untuk membangun tekad, mental, dan semangat dalam meraih cita-cita mulia.
Penerapan Man Jadda Wajada menuntut sifat pantang menyerah, tidak mudah putus asa, dan terus berjuang. Hal ini tampak dalam berbagai kisah teladan.
Kisah pertama adalah Nabi Yusuf AS. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Ayat ini mengajarkan pentingnya harapan dan kesungguhan dalam menghadapi ujian hidup.
Kisah kedua adalah Abu Dzar Al-Ghifari RA. Dalam sebuah perjalanan perang bersama Rasulullah SAW melintasi padang pasir yang sangat panas, tunggangan Abu Dzar mati kehausan. Namun, ia tidak menyerah. Dengan berjalan kaki, penuh keikhlasan dan doa, ia terus melangkah mengejar rombongan Rasulullah.
Ketika para sahabat melihat seperti titik hitam dari kejauhan, Rasulullah bersabda, “Biarkan dia. Jika dia memang berguna dalam perjuangan ini, Allah akan memberinya kekuatan.”






