IBRAH

Julaibib: Pelajaran tentang Keikhlasan Hati dan Kepekaan Sosial

Tak berselang lama, panggilan menggema. Islam memanggil para pembelanya. Pasukan kafir menggelar pasukan menantang perang. Julaibib yang sudah bersiap menikah dengan bekal di tangan dan bayangan mempelai menunggu kedatangan, mengalihkan pandangan ke medan perjuangan. Baginya tidak ada yang lebih utama dibandingkan berperang di sisi nabi yang lebih ia cintai melebihi dirinya sendiri.

Lalu takdir pun berlaku. Sebagaimana yang tercatat dalam tinta sejarah, perang berkecamuk dengan dahsyat, Julaibib meliuk-liuk lincah menyabetkan pedangnya ke arah musuh. Aksinya yang begitu heroik memantik semangat pasukan muslim, seolah mereka belum pernah melihat semangat kepahlawanan yang begitu dahsyat sebelum ini.

Namun, Allah berkehendak untuk berjumpa dengan Julaibib. Setelah berjuang dengan gigih, Julaibib mencapai batas akhir, ia pun syahid. Calon pengantin yang sudah siap menikah ini, akhirnya tidak menjalani bulan madunya di dunia. Kecintaannya pada perintah nabi mengalahkan rasa hati terhadap kenikmatan dunia yang begitu diidamkannya selama ini.

Maka, perkataan Rasulullah kepadanya tentu tidak berlebihan atau diskriminatif terhadap sahabat yang lain. “Ia adalah bagian diriku dan aku bagian dari dirinya”. Menegaskan bahwa Julaibib akan selalu mendahulukan Rasulullah melebihi dirinya sampai akhir hayat.

Ini adalah potret pribadi yang akan sangat sulit dicari penggantinya di zaman ini. Pribadi yang tidak pernah menyimpan dengki, rasa ingin menonjolkan diri, haus pengakuan pribadi. Julaibib tidak pernah berpikir mengatur strategi, memanfaatkan situasi kedekatannya dengan nabi, memanipulasi persepsi untuk memuluskan ambisi. Ia memiliki hati yang murni, walaupun kondisi sering sekali menempatkan dirinya dalam posisi yang tidak presisi.

Di setiap zaman, standar prestise selalu sama. Paras, status, fulus adalah parameter yang membentuk struktur sosial masyarakat. Sering sekali, kemuliaan hanya diukur karena faktor duniawi semata. Lanskap pertemanan dibangun atas dasar kemanfaatan yang diperoleh. Alih-alih dipandang karena kemuliaan adab dan budi pekerti, kebanyakan mereka yang tidak berpunya justru tersisih karena kalah gemerlap dan pundi-pundi.

Dari Julaibib kita belajar bahwa hati memiliki luasan yang tak bertepi. Kita dapat memilih untuk bersikap sebagai ksatria sejati yang tidak takluk pada inferiority. Kita tetap dapat menjadi VIP walaupun segenap dunia memunggungi.

Dari kisah Julaibib juga kita belajar bahwa dunia punya standar. Bahkan manusia sekualitas para sahabat pun dapat luput mengenali intan berlian yang berlumur lumpur. Bukan karena angkuh, atau memandang rendah orang lain, tapi karena kilau permata memang tak selalu kasat mata dan dapat diindera.

Dari kisah ini Rasulullah Saw mengajarkan kita, kesetaraan itu bukan sekadar kata-kata tak bermakna. Ia adalah pengejawantahan dari prinsip keyakinan dan nilai moral. Bahwa keimanan mengalahkan standar-standar nisbi-imajiner yang dibuat manusia untuk memperbudak sesamanya.

Lalu bagaimana dengan kita? Pelajaran apakah yang dapat kita petik. []

Rahmat Firdaus, Staf Pengajar Ma’had Daarut Tibyaan Banda Aceh.

Laman sebelumnya 1 2 3
BACA JUGA
Close
Back to top button